Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendorong trauma healing berkepanjangan bagi anak, orang tua, dan lansia terdampak gempa Flores di letak pengungsian.(Diskominfo Provinsi Jawa Timur)
GUBERNUR Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membujuk anak-anak terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk bangkit kembali berani bermimpi dan menatap masa depan. Di tengah situasi pascabencana, Khofifah menilai pemulihan anak-anak tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga perlu dibarengi pendampingan psikososial secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Khofifah saat mengunjungi dan menyerahkan support kemanusiaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur berbareng support corporate social responsibility (CSR) di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8).
Di hadapan anak-anak nan berkumpul di lokasi, Khofifah berupaya mencairkan suasana dengan membujuk mereka berbincang tentang cita-cita. Ia bertanya siapa di antara mereka nan mau menjadi gubernur maupun bupati.
“Ada nan mau jadi gubernur? Coba angkat tangan,” kata Khofifah. “Ada nan mau jadi bupati? Coba angkat tangan” lanjutnya.
Sejumlah anak langsung mengangkat tangan sembari menjawab dengan penuh semangat. Suasana semakin hidup ketika Khofifah kembali bertanya mengenai cita-cita mereka.
"Saya bu, saya" teriak anak sembari mengakat tangan.
Melihat antusiasme itu, Gubernur Khofifah kemudian memberikan motivasi agar anak-anak tidak kehilangan semangat untuk meraih cita-cita meski sedang menghadapi situasi susah akibat bencana.
“Mudah-mudahan semua cita-cita kalian tercapai. nan mau jadi tentara alias polisi, semoga bisa menjadi jenderal. Jadilah anak-anak Indonesia nan luar biasa,” ujarnya.
Khofifah juga menanyakan kesiapan mereka untuk kembali berguru setelah kondisi lingkungan dan akomodasi pendidikan dinyatakan aman.
“Kalau sekolah sudah bisa digunakan, siap sekolah lagi?” tanya Khofifah.
“Siap!” jawab anak-anak serentak.
“Bahagia kita mendengar semangat mereka. Sekolahnya kelak jika sudah kondusif dan sudah bisa digunakan, kita kembali sekolah,” katanya.
Keceriaan anak-anak kemudian semakin terasa ketika Khofifah membujuk mereka menyanyi bersama. Lagu "Hari Merdeka" dinyanyikan dengan penuh semangat, kemudian dilanjutkan dengan "Garuda Pancasila". Anak-anak ikut menyanyi dengan bunyi lantang, sementara beberapa di antaranya mengikuti aktivitas tangan Khofifah.
Tawa dan tepuk tangan terdengar di tengah kegiatan. Untuk sesaat, suasana di SD Inpres Robo berubah menjadi ruang bermain dan belajar nan penuh keceriaan, meski masyarakat di sekitarnya tetap berada dalam situasi pemulihan akibat gempa.
Bagi Khofifah, momen tersebut menjadi pengingat bahwa anak-anak merupakan golongan nan memerlukan perhatian unik dalam penanganan bencana. Pemulihan mereka bukan hanya menyangkut kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan, tetapi juga rasa kondusif serta kondisi psikologis.
"Kami mengirim tim LDP, jasa support psikososial. Tim LDP ini ada 4 orang nan sudah 3 hari mereka di sini. Jadi ini tim trauma healing. nan bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu, dan lansia. Mereka memerlukan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling, dan trauma healing," katanya
Pemprov Jatim telah mengirimkan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat khus7snya anak anak dan lansia terdampak. Layanan tersebut tidak hanya menyasar anak-anak, tetapi juga orang tua dan lansia nan memerlukan penguatan psikologis, konseling, maupun pendampingan pascabencana.
Khofifah menekankan, proses pemulihan psiko sosial tidak selalu dapat dilihat secara kasatmata dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu kali kegiatan. Karena itu, pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama selama masyarakat tetap menghadapi situasi pengungsian dan proses pemulihan.
“Jadi prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini memerlukan waktu. Karena itu, pendampingan kudu terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat setelah menghadapi bencana,” katanya.
Khofifah menambahkan, pemulihan psikososial menjadi bagian krusial dari penanganan musibah lantaran pengalaman gempa dapat meninggalkan tekanan dan rasa takut, khususnya bagi anak-anak. Pendampingan nan tepat diharapkan dapat membantu mereka kembali merasa aman, berani beraktivitas, serta perlahan kembali pada rutinitas.
Ia berambisi jasa support psikososial dapat membantu anak-anak menemukan kembali keceriaan mereka. Ketika situasi sudah memungkinkan, anak-anak diharapkan dapat kembali belajar, bermain, berinteraksi dengan teman-teman, dan mengejar cita-cita.
Khofifah juga membujuk masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan nan mendukung proses pemulihan psiko sosial anak. Peran orang tua, guru, tenaga kesehatan, relawan, pemerintah daerah, serta masyarakat sekitar dinilai krusial agar anak-anak tidak menghadapi akibat psikologis musibah seorang diri.
"Kita semua bersaudara. Kita datang bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita di sini," ucapnya.
Khofifah pun menyampaikan pesan langsung kepada anak-anak agar tetap kuat dan semangat menghadapi situasi nan sedang terjadi.
“Anak-anakku, kalian tidak sendiri. Kita semua bersaudara. Tetap semangat, sehat dan kuat untuk menghadapi ujian ini. Mudah-mudahan nan sakit segera sembuh dan anak-anak dengan ceria dan semangatnya bisa kembali berguru untuk mencapai cita-cita nan luar biasa,” katanya.
Khofifah menegaskan, semangat gotong royong dalam penanganan musibah kudu mencakup seluruh aspek kebutuhan masyarakat. Bantuan logistik membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tenaga kesehatan mendukung pemulihan fisik, sementara pendampingan psikososial membantu masyarakat membangun kembali kekuatan mental setelah menghadapi bencana. (RO/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·