Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah bakal terus menekan tingkat utang pemerintah hingga akhir tahun nanti, meskipun hingga Semester I-2026 mengalami kenaikan hingga ke level Rp 10.293,69 triliun, alias setara 41,26% PDB.
Purbaya menegaskan rasio utang terhadap PDB nan tetap di kisaran 41,26% itu pun sebetulnya juga tetap jauh di bawah pemisah maksimal nan telah ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara, sebesar 60% terhadap PDB.
"Nanti kita lihat akhir tahun pertumbuhannya seperti apa. Harusnya kan bisa turun lagi sedikit dan jika kita lihat kan tetap di bawah 60% jauh," tegas Purbaya di kantornya, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Menurut Purbaya, dari sisi rasio utang, sebetulnya tetap terbilang aman, lantaran seiring dengan naiknya tingkat utang, ukuran ekonomi Indonesia turun membesar nan ditandai dengan pertumbuhan PDB.
"Jadi kita lihat seperti itu. Kalau kita memandang sustainability hutang alias fiskal seperti itu Itu kita lihat relatif terhadap size ekonomi," paparnya.
Untuk mencapai level penurunan utang pemerintah pusat, Purbaya mengatakan, pemerintah telah mempunyai sejumlah strategi, salah satunya adalah untuk mengefektifkan pengumpulan pajak.
"Strateginya kita bakal batasin defisit agar nggak tinggi amat. Terus kita bakal efektifkan tax collection kita bukan naikin pajak ya. Tapi kita bersihkan langkah kita beraksi menggunakan pajak," kata Purbaya.
Sebagaimana diketahui, nilai total utang pemerintah per 30 Juni 2026 nan sebesar Rp 10.293,69 triliun itu bertambah sekitar Rp 373,27 triliun dibanding catatan pada akhir 31 Maret 2026 sebesar Rp 9.920,42 triliun.
Nominal utang pemerintah sampai dengan akhir kuartal II-2026 ini terdiri dari hasil publikasi Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 8.966,79 triliun, dan pinjaman Rp 1.326,90 triliun.
Nilai utang hasil publikasi SBN ini bertambah sekitar Rp 313,9 triliun dalam tiga bulan, alias dibanding posisi per akhir kuartal I-2026 nan sebesar Rp 8.652,89 triliun. Sedangkan untuk pinjaman bertambah Rp 59,38 triliun dari catatan sebelumnya Rp 1.267,52 triliun.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

48 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·