Ilustrasi.(Magnific)
ISRAEL tengah menjalankan strategi realisme geopolitik nan jeli di Amerika Latin, di saat para diplomat Barat terjebak dalam retorika kosong. Penjualan senjata canggih negeri zionis itu ke area ini bukan sekadar transaksi komersial biasa, melainkan instrumen praktis untuk mengamankan bagian bumi nan sekarang berada di bawah tekanan poros revisionis nan bermusuhan.
Tekanan tersebut sudah terlihat nyata di seluruh kawasan. Teheran mengubah Venezuela dan Bolivia menjadi pangkalan depan, mengerahkan drone canggih dan penasihat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengekspor jaringannya.
Sementara itu, Beijing mengucurkan biaya sebesar US$3,5 miliar (sekitar Rp55 triliun) ke pelabuhan laut dalam Chancay di Peru, akomodasi nan dibangun untuk menampung kapal angkatan laut Tiongkok dan memproyeksikan kekuatan ke Amerika. Di sisi lain, Moskow memasok senjata dengan nilai potongan nilai kepada kediktatoran di Nikaragua dan Kuba untuk mendestabilisasi perbatasan selatan Amerika Serikat. Secara kolektif, langkah-langkah ini mengubah Amerika Latin menjadi arena kejuaraan geostrategis baru.
Israel secara krusial membantu mitra regional Washington untuk melawan kembali dengan memasok drone canggih dan senjata presisi kepada pemerintah demokratis di area tersebut. Material mutakhir ini terintegrasi dengan peralatan warisan AS, memberikan kelebihan kualitatif nan menentukan bagi pasukan lokal melawan operasi pengaruh Iran, Tiongkok, dan Rusia.
Akuisisi sistem roket PULS dari Elbit oleh Peru baru-baru ini serta ekspansi pembelian oleh Argentina di bawah Presiden Javier Milei adalah contoh nan paling nyata. Pada tahun 2025, perusahaan-perusahaan Israel tercatat sebagai pemasok sistem nirawak dan amunisi presisi terbesar kedua bagi militer Amerika Latin, hanya tertinggal dari Amerika Serikat.
Realitas itu mematahkan klaim golongan kiri bahwa penjualan senjata tersebut ceroboh. Amerika Latin adalah garis depan kritis dalam kontes dunia antara tatanan berbasis patokan dan revisionisme otoriter.
Saat Teheran menyebarkan subversi dan Beijing menerapkan jaringan pengawasan serta diplomasi jebakan utang, Israel memberikan perangkat keras nan teruji di medan perang, pelatihan, dan perjanjian produksi nan membangun kapabilitas mitra sejati. Realisme strategis Israel mengisi kekosongan nan ditinggalkan oleh keraguan Barat dengan perangkat nan melayani kepentingan nasional Amerika.
Manfaatnya meluas melampaui medan perang. Penjualan pertahanan ini menjadikan Israel sekutu nan jauh lebih berfaedah bagi Washington. Dengan menghasilkan pendapatan pertahanan independen, Tel Aviv mengurangi kerentanannya terhadap politisasi support luar negeri AS.
Israel nan lebih berdikari menjadi mitra nan lebih kuat dan tidak terkekang bagi Washington. Hubungan nan lebih dalam dengan pemerintah nan bertanggung jawab juga membantu mencegah Tiongkok menguasai persediaan mineral kritis di Segitiga Litium.
Untuk itu, Washington kudu secara garang mendukung inisiatif strategis sekutunya. Tindakan ini membendung ekspansi Iran dan Tiongkok serta memperkuat rezim pro-Barat tanpa biaya bagi pembayar pajak Amerika. Berbeda dengan Beijing dan Moskow nan melakukan proliferasi tanpa kendali, kontrol pengguna akhir Israel nan ketat memastikan teknologi sensitif tidak jatuh ke tangan lawan.
Langkah lebih lanjut mengharuskan Washington untuk menghentikan keraguan birokratisnya. Departemen Luar Negeri AS kudu berakhir memperlakukan penjualan senjata ke mitra demokratis di Amerika Latin sebagai liabilitas kewenangan asasi manusia, sembari mengabaikan jaringan pengawasan Tiongkok dan subversi Iran.
Pejabat AS kudu mempercepat pengadaan nan selaras dengan Barat. Pentagon dan Southcom perlu membentuk kerangka kerja intelijen trilateral umum nan menghubungkan analis AS, master pertahanan Israel, dan mitra terpercaya seperti Argentina, Kolombia, dan Peru. Terakhir, Kongres kudu melawan upaya norma nan didanai Eropa untuk mengganggu perjanjian Israel.
Perjanjian strategis zionis membangun arsitektur keamanan paralel nan memperkuat mitra pro-Barat tanpa mengorbankan nyawa tentara Amerika. Washington sekarang kudu memilih antara sekutu nan memberikan hasil nyata atau membiarkan area tersebut jatuh ke tangan kekuatan revisionis. (Washington Examiner/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·