Jakarta, CNBC Indonesia - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menegaskan penolakannya terhadap rencana Gaza terbaru dari Donald Trump. Penolakan ini disampaikannya secara langsung dalam sambutan nan disiarkan televisi kepada pemerintah sayap kanannya pada hari Minggu.
Mengutip Reuters, Senin (10/08/2026), Netanyahu dengan keras menyatakan keberatannya terhadap draf perdamaian tersebut di awal pertemuan dengan para menteri kabinet. Ia juga menekankan bahwa penarikan pasukan tidak bakal pernah terjadi sebelum faksi perlawanan Palestina menyerahkan senjata mereka.
"Israel tidak menerima arsip 15 poin tersebut," tegasnya. "Militer tidak bakal melakukan penarikan apa pun sampai Hamas dilucuti senjatanya, nan berfaedah persenjataan berat, persenjataan nan lebih ringan, semua persenjataan."
Netanyahu menambahkan bahwa Israel saat ini sedang dalam pembicaraan intensif dengan AS mengenai rencana tersebut. Ia menegaskan bahwa pihak Israel telah memilah ide-ide dari Washington nan dapat mereka toleransi.
"Mereka (AS) mempunyai ide-ide, beberapa di antaranya dapat kami terima dan beberapa di antaranya tidak dapat kami terima, dan kami tahu gimana berdiri teguh melawan hal-hal ini," ungkapnya.
Sikap keras kepala Netanyahu dalam menolak peta jalan perdamaian ini mendapat support penuh dari mitra koalisinya. Menteri Keuangan Israel nan bergolongan sayap kanan ekstrem, Bezalel Smotrich, secara terbuka memuji langkah sang Perdana Menteri.
"Kami bertempur dengan tujuan sentral: penghancuran Hamas," ucapnya.
"Militer tidak dapat mundur satu milimeter pun dari Jalur Gaza," pungkasnya.
Netanyahu saat ini tengah kesulitan dalam beragam jajak pendapat menjelang upayanya untuk terpilih kembali pada 27 Oktober mendatang. Ia sekarang terjepit di antara tuntutan para menteri sayap kanan dan pendukung militer utamanya, Trump, nan menginginkan penyelesaian konflik.
Meskipun Netanyahu melontarkan retorika keras, militer Israel dilaporkan telah mengurangi skala serangannya di Jalur Gaza sejak hari Senin lalu. Pasukan keamanan sekarang membatasi operasi militer hanya pada ancaman langsung dan menghentikan pembunuhan nan ditargetkan akibat tekanan Presiden AS.
Langkah penurunan eskalasi taktis ini terjadi setelah Nikolay Mladenov, utusan Gaza untuk Dewan Perdamaian Trump, mengadakan pertemuan dengan Netanyahu. Mladenov pada hari Minggu juga telah mengonfirmasi bahwa obrolan mengenai penyempurnaan peta jalan baru tetap terus berlanjut.
Bulan lalu, Trump mengumumkan adanya terobosan penyelesaian perang nan sebelumnya diklaim telah disetujui oleh Israel dan Hamas. Rencana 15 poin tersebut mencakup penarikan pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, serta pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional.
Namun, pihak Hamas sangat menghindari penggunaan istilah "pelucutan senjata" dalam kerangka kesepakatan tersebut. Mereka hanya setuju untuk menyerahkan senjata agar disimpan di bawah manajemen teknokrat Palestina dengan pengawasan Dewan Perdamaian Trump.
Hamas menekankan bahwa persetujuan mereka bakal sangat berjuntai pada kesediaan Israel untuk memenuhi komitmen penarikan pasukan terlebih dahulu. Menanggapi manuver Israel, pejabat senior Hamas, Basem Naim, memastikan bahwa kelompoknya tetap berkomitmen pada peta jalan Kairo.
"Kami mengharapkan para mediator dan penjamin AS untuk menekan Netanyahu dan pemerintahannya agar mematuhi peta jalan tersebut dan tidak menghalangi proses lantaran argumen politik dan pemilihan internal," tuturnya.
Sebagai informasi, lebih dari 1.250 orang nan sebagian besar penduduk sipil telah tewas sejak gencatan senjata dimediasi AS pada Oktober 2025. Israel juga tercatat telah menduduki dan mengosongkan dua pertiga wilayah kantong tersebut nan memaksa 2 juta masyarakat Gaza hidup memprihatinkan di tenda-tenda pesisir.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·