ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana memperluas bahan baku bioenergi. Jika selama ini biodiesel didominasi minyak sawit, ke depan pemerintah bakal mengembangkan beragam tanaman lain sebagai sumber biofuel.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan pemerintah telah menetapkan tahapan penerapan mandatori biodiesel melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 2025.
"Lalu mandatory biodiesel sudah pasti, apalagi di Permen ya, Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 itu pentahapan-pentahapan ini sudah kita tetapkan," kata Eniya dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Senin (29/6/2026).
Menurut dia, pengembangan bioenergi ke depan tidak hanya bertumpu pada crude palm oil (CPO). Pemerintah mulai menjajaki pemanfaatan tanaman seperti jagung, singkong, dan tebu sebagai bahan baku bioetanol untuk menggantikan sebagian konsumsi bensin.
"Lalu ada tanaman nan lain lagi seperti kelapa begitu untuk bio-avtur. Jadi ke depan bakal banyak sekali potensi kita meningkatkan lifting minyak dari tanaman," ujarnya.
Di tempat nan sama, PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyiapkan strategi multi-feedstock, multi-generation, dan multi-region untuk mempercepat pengembangan bioetanol nasional. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program pencampuran bioetanol pada BBM jenis bensin.
Direktur Utama PT Pertamina NRE John Anis mengatakan pengembangan bioetanol tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis bahan baku. Menurutnya, kesiapan molases alias tetes tebu sebagai bahan baku utama saat ini tetap jauh dari kebutuhan andaikan Indonesia menerapkan campuran bioetanol hingga E10 maupun E20.
"Keberhasilan dari B50, tentu saja kita juga mau mengcopy keberhasilan itu untuk di etanol. Nah, hanya memang perjalanannya cukup panjang tapi kami tidak menyerah di situ. Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, nan kedua adalah multi-generation, nan ketiga adalah multi-region," kata John dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, molases menjadi bahan baku nan paling matang lantaran merupakan produk samping industri gula sehingga tidak bersaing langsung dengan kebutuhan pangan. Namun, kapabilitas produksinya tetap terbatas.
Di sisi lain, kebutuhan bioetanol nasional diperkirakan jauh lebih besar. Setidaknya untuk mendukung penerapan campuran E10, kebutuhan bioetanol diperkirakan mencapai 10 juta hingga 20 juta kiloliter per tahun, sehingga pasokan dari molases saja tidak bakal mencukupi.
Oleh karena itu, Pertamina NRE mulai memperluas sumber bahan baku bioetanol. Salah satunya melalui kerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam pembangunan akomodasi bioetanol berbasis molases di area Pabrik Gula Glenmore Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dengan kapabilitas produksi sekitar 33 ribu kiloliter per tahun.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·