RI Harus Belajar dari Malaysia-Thailand, Cegah Petaka Otomotif Jilid 2

2 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah menghadapi tekanan penjualan sepanjang 2025. Namun, momentum tersebut dinilai perlu dijaga dengan kebijakan nan tepat, terutama mengenai struktur pajak kendaraan nan berakibat langsung terhadap nilai mobil dan daya beli masyarakat.

Pengamat otomotif senior Bebin Djuana menilai pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan istilah insentif untuk mendorong pasar. Menurutnya, struktur kebijakan pajak otomotif secara keseluruhan perlu ditinjau agar nilai kendaraan di Indonesia lebih kompetitif dibandingkan negara tetangga.

"Jangan lagi pakai istilah insentif, sebaiknya tinjauan ulang kebijakan pajak, jika tidak kita bakal hadapi jilid 2 terpuruknya industri otomotif tahun depan. Apa nan salah kudu berani dikoreksi & diperbaiki," kata Bebin kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (24/8/26).

Kekhawatiran tersebut muncul ketika Indonesia tetap menghadapi persoalan nilai kendaraan nan relatif tinggi, sementara pasar negara tetangga bisa mempertahankan volume penjualan nan besar. Pada 2025, penjualan mobil Indonesia tercatat 803.687 unit, turun 7,2% dari 865.723 unit pada 2024. Sebaliknya, Malaysia membukukan penjualan 820.752 unit, naik 0,5% dan menjadi rekor tertinggi.

Bebin kemudian menyoroti perbedaan nilai kendaraan nan menurutnya menunjukkan persoalan daya saing nilai tidak bisa semata-mata dibebankan kepada konsumen.

"Contoh sudah di depan mata, Xenia di negara kita harganya berapa, berapa nilai Perodua nan notabene sama dengan Xenia nan dibayar orang Malaysia. Apakah mau katakan Xenia kita lebih bagus? Atau daya beli masyarakat kita lebih baik dari mereka?" ujarnya.

Mobil Listrik Jadi Tulang Punggung?

Perbandingan Indonesia dan Malaysia menjadi menarik lantaran Malaysia mempunyai pasar nan lebih mini dari sisi jumlah penduduk, tetapi penjualan kendaraan barunya sekarang bisa menempel apalagi melampaui Indonesia. Salah satu penopangnya adalah kekuasaan merek nasional Perodua dan Proton. Pada 2025, kedua merek tersebut menguasai 62,3% pasar Malaysia, dengan Perodua sendiri menjual 359.904 unit alias sekitar 41,4% pasar.

Di sektor kendaraan listrik, Indonesia sebenarnya bukan tertinggal. Penjualan BEV nasional mencapai 103.931 unit pada 2025, melonjak 141% dibandingkan 43.188 unit pada 2024 dan mengambil pangsa 12,93% dari total penjualan mobil nasional. Namun, pertumbuhan tersebut banyak didorong kendaraan impor, dengan sekitar 75% penjualan EV Indonesia pada 2025 berasal dari China.

Malaysia justru mencatat 30.848 penjualan EV pada 2025, naik 109% secara tahunan. Pangsa EV sekitar 5,1% dari registrasi kendaraan baru. Sementara Thailand jauh lebih garang ialah penjualan mobil listriknya mencapai sekitar 140.000 unit pada 2025 alias nyaris seperempat pasar, ditopang skema EV3.5, pembebasan pajak dan bea masuk, serta tanggungjawab produksi lokal.

Perbedaannya menunjukkan persoalan Indonesia bukan hanya prasarana pengisian daya. Thailand membangun ekosistem EV sekaligus memaksa investasi dan produksi lokal, sedangkan Malaysia memanfaatkan kombinasi merek nasional, pembiayaan nan kondusif dan kebijakan pajak. Thailand apalagi telah menarik investasi rantai pasok EV sekitar 140 miliar baht hingga Oktober 2025 dan mempunyai lebih dari 7.000 DC fast charger.

Hilal 1 Juta Unit Tak Pernah Terlihat Lagi

Di sisi Indonesia, pasar mulai pulih pada 2026. Penjualan wholesales Januari-Juli mencapai 517.742 unit, naik 18,3% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya, sementara Juli sendiri mencapai 81.115 unit. Artinya, persoalannya bukan semata-mata tidak ada permintaan, tetapi gimana kebijakan harga, pajak, pembiayaan, strategi produk, lokalisasi industri, hingga jasa purnajual bisa membikin pemulihan tersebut berkelanjutan.

"Jika industri ini mulai bisa bergulir kembali harapannya bukan hanya kembali seperti sediakala, tapi menjadi lebih baik dan lebih kuat sehingga cita-cita bisa merengkuh nomor penjualan 2 juta unit. Perlu diingat industri ini menyumbang pemasukan negara," kata Bebin.

Sebelumnya, LPEM FEB UI menganalisis info penjualan mobil nasional nan dirilis Gaikindo. Pada tahun 2011-2013, penjualan selalu melampaui produksi. Namun, sejak tahun 2014 hingga saat tahun 2024, produksi melampaui penjualan. Bahkan, gap antara kelebihan produksi terhadap penjualan semakin lama semakin bertambah tiap tahunnya.

Lalu, pada tahun 2025, penjualan mobil sejak Januari 2025 hingga Januari 2026, tidak pernah melampaui nomor 100.000 unit, di mana secara rata-rata, penjualan berada di sekitar 60.000-70.000 unit. Hanya di Desember 2025 nan penjualannya nyaris menyentuh 100.000 unit, tepatnya di nomor 94.102 unit.

Begitu juga di tahun 2026, sejak bulan Januari hingga Juni, penjualan mobil nasional tetap di bawah 100.000 unit di tiap bulannya, baik secara wholesales maupun retail sales. Penjualan tertinggi tercatat di bulan Februari dengan 81.271 unit secara wholesales dan 78.239 unit secara retail sales.

Mirisnya lagi, penjualan mobil nasional terakhir melampaui nomor 1 juta unit tercatat terjadi di tahun 2023. Setelah itu, penjualan tahunan selalu di bawah 900.000 unit.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya