ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina New and Renewable Energy (NRE) menyiapkan beragam strategi untuk mengamankan pasokan bahan baku bensin dengan campuran bioetanol 20% alias E20. Hal itu seiring dengan rencana pemerintah untuk memberlakukan mandatori bioetanol hingga 20%.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis menjelaskan bahwa perseroan menerapkan tiga jurus utama, ialah multi-feedstock, multi-generation, dan multi-region untuk memenuhi bahan baku dari bahan bakar nabati tersebut.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan mandatori bioetanol sangat berjuntai pada kesiapan bahan baku nan berkepanjangan dan tidak mengganggu ketahanan pangan.
"Strategi kami di sini adalah ada tiga strategi: satu adalah multi-feedstock, nan kedua adalah multi-generation, nan ketiga adalah multi-region," paparnya dalam Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta, dikutip Selasa (30/6/2026).
Perusahaan saat ini mengoptimalkan pemanfaatan molase alias tetes tebu sebagai bahan baku nan paling matang. Namun, lantaran volume molase nasional terbatas, Pertamina mulai melakukan diversifikasi dengan mengolah singkong serta tanaman sorgum manis guna menambah volume produksi bioetanol harian.
"Tapi kita nggak bisa hanya berambisi dari molasses saja. Oleh karena itu kita juga coba dengan singkong. Kita ada mulai bekerja sama dengan LPP, mereka punya plant nan di Lampung nan sempat waktu itu dibangun tapi tidak berjalan, kita coba reaktivasi lagi," katanya.
Pihaknya juga merambah pengembangan bioetanol generasi kedua (second generation) nan menggunakan bahan baku dari limbah pertanian alias waste. Strategi itu diambil untuk menekan biaya produksi lantaran nilai bahan baku sisa pengolahan jauh lebih murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Kenapa kita lari ke second generation? Karena nan di first generation kan nilai feedstock-nya bersaing dengan makanan kadang-kadang dan itu mahal. Itu nan membikin tidak ekonomis. Nah, sedangkan jika second generation itu dari waste," tuturnya.
Terkait strategi ketiga melalui pendekatan multi-region, perusahaan membangun akomodasi pengolahan di beragam wilayah strategis nan mempunyai potensi bahan baku melimpah seperti Jawa Timur, Lampung, hingga Sulawesi.
Sinergi dengan sesama perusahaan pelat merah seperti PTPN dan SGN terus diperkuat guna menjamin kelancaran rantai pasok dari hulu hingga ke hilir.
"Kita bekerja sama tentu saja nan molasses kita jalankan, kita baru kembali dari Glenmore di Banyuwangi, kita bekerja sama dengan SGN nan bakal menyuplai molasses-nya berproduksi 33.000 kiloliter per tahun sebagai nan pertama berbasis molasses dan ini kita bakal tambah lagi sekitar lima minimal," tandasnya.
Perlu diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menyiapkan rencana uji jalan (road test) untuk bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan campuran bioetanol sebesar 20% alias E20.
Hal itu perlu dilakukan sebelum pemerintah memberlakukan kebijakan mandatori bioetanol 20% (E20) pada 2028 mendatang.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk memulai pengetesan tersebut.
Targetnya, pengetesan pada mesin kendaraan dapat segera terlaksana guna memandang kesiapan prasarana industri otomotif nasional.
"Nah saya lagi minta asosiasi untuk mari kita sama-sama uji langsung road test E20. Nah itu saya minta tim Gaikindo tuh. Kamu janji ya mari kita secepatnya E20 uji road test-nya," ungkapnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Sebelum masuk ke tahap E20 nan ditargetkan bisa melangkah pada 2028, pemerintah sekarang memfokuskan pada penyelenggaraan mandatori bioetanol 5% (E5) nan ditargetkan mulai melangkah tahun ini.
Eniya menyebut mandatori E5 kudu segera melangkah sebelum Desember tahun ini untuk mengejar sasaran peningkatan bauran menjadi 10% (E10) pada awal tahun 2027 mendatang.
"Target kita kan intinya sebelum Desember sudah dimandatorikan dulu 5% lantaran Januari kan ngejar nan 10% gitu. 2028 baru nan Januari 2028 baru 20% gitu," jelas Eniya.
Hingga saat ini, proses penerapan E5 tinggal menunggu publikasi Keputusan Menteri (Kepmen) mengenai alokasi volume bensin nabati tersebut. Pemerintah juga telah menyelesaikan sejumlah izin pendukung, termasuk pembebasan cukai melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) serta penyederhanaan izin upaya pencampuran bahan bakar.
"Kalau E5 tinggal Kepmen alokasi. PMK nan bebas juga sudah keluar. Terus satu lagi Permen nan NSPK untuk kelak jika izin-izin hanya perlu IUN gitu lho. KBLI-nya baru," imbuhnya.
Pihak kementerian juga tengah mengawal kesiapan prasarana di PT Pertamina (Persero), khususnya mengenai proses pembersihan reaktor (cleaning reactor) agar pengedaran E5 melangkah lancar.
Di sisi teknis, Lemigas tetap melakukan pengetesan pencampuran etanol terhadap beragam jenis nomor oktan bensin guna menemukan spesifikasi nan paling tepat untuk dipasarkan.
"E5 kelak keputusannya Pak Menteri gimana. Pokoknya ini saya lantaran saya lagi nunggu Pertamina terus ada uji apa gitu di Pertamina itu katanya sudah diserahkan Lemigas. Nanti etanolnya pastinya sebelum dimandatorikan pasti kita obrolan dulu," katanya.
Eniya meyakini bahwa teknologi mesin kendaraan modern saat ini sebenarnya bisa mengonsumsi bensin dengan campuran etanol hingga kadar 30%. Namun, pemerintah tetap bakal melakukan uji coba secara terukur agar transisi daya di sektor transportasi ini memberikan faedah efisiensi nan optimal bagi masyarakat.
"Saya percaya produk-produk mobil nan sekarang itu bisa sampai 30%. Itu di jurnal ada. Tapi saya percaya 30% itu gak masalah, hanya tahun berapa nan bisa E10, tahun berapa nan bisa E20, tahun berapa nan bisa sampai E30. Nah itu saya minta kemarin asosiasi untuk mari kita segera road test," tandasnya.
(wia)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·