Jakarta, CNBC Indonesia - RI merupakan salah satu produsen timah terbesar dunia. Namun, besarnya produksi tersebut belum membikin Indonesia bisa menentukan nilai timah di pasar global.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengatakan, kondisi tersebut menjadi persoalan strategis nan kudu segera dibenahi pemerintah.
Hal itu disampaikan Yusril dalam konvensi pers mengenai penyelesaian terpadu persoalan norma dan wilayah operasi PT Timah di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Selasa (18/8/2026).
"Sayangnya timah nan sangat kaya raya itu, di samping juga ada unsur mineral nan lain, belum dapat kita kelola dengan baik, sehingga kita tidak dapat menentukan sebenarnya nilai timah dunia, didikte oleh orang lain," ungkap Yusril, dikutip Rabu (19/8/2026).
Yusril menilai ke depan negara semestinya mempunyai posisi nan lebih kuat dalam perdagangan timah global. Terlebih, menurutnya, sejumlah negara nan sebelumnya menjadi produsen timah seperti Bolivia, Malaysia, dan Thailand telah menghentikan produksinya.
"Bayangkan di bumi ini, satu-satunya negara nan memproduksi timah itu tinggal Indonesia. Bolivia sudah stop, Malaysia sudah stop, Thailand juga sudah stop," katanya.
Menurut Yusril, produksi timah Indonesia juga terkonsentrasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Potensi tersebut semestinya dapat dikelola secara lebih strategis sehingga memberikan nilai tambah dan faedah nan lebih besar bagi masyarakat.
Karena itu, pemerintah mau melakukan pembenahan menyeluruh terhadap tata kelola industri timah. Salah satu persoalan nan menjadi perhatian adalah praktik penyelundupan nan dinilai turut merugikan Indonesia.
Yusril pun menyoroti adanya negara tetangga nan sekarang menjadi produsen sekaligus eksportir timah dunia, meskipun disebut tidak mempunyai persediaan alias tambang timah nan memadai.
"Jangan lagi terjadi penyelundupan. Sekarang ini ada negara tetangga kita nan menjadi produsen timah dan menjadi eksportir timah dunia, padahal nggak ada tambang timahnya. Dari mana dia dapat timah? Ya dari hasil selundupan nan ada di negara kita ini," tegasnya.
Pemerintah pun bakal melibatkan abdi negara penegak hukum, pemerintah, PT Timah (Persero) Tbk, serta masyarakat dalam melakukan penataan terhadap sektor pertimahan nasional.
Yusril berambisi pembenahan tersebut dapat membikin Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pemasok komoditas, tetapi mempunyai posisi tawar nan lebih kuat dalam menentukan nilai timah dunia.
"Kita sebagai produsen kudu menentukan nilai timah dunia. Jangan dipermainkan oleh orang lain," ujarnya.
Lebih lanjut, Mantan Menteri Sekretaris Negara menambahkan, penguatan tata kelola timah pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara luas.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·