Jakarta, CNBC Indonesia - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan, gempa M7,7 nan mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada memicu longsoran masif di sepanjang jalur strategis Ende, Nagekeo, Bajawa, hingga Maumere.
Kondisi ini, kata dia, akibat kombinasi antara kerentanan pengetahuan bumi lokal dan besarnya daya seismik nan dilepaskan.
Ketika gempa M7,7 terjadi, terangnya, nilai percepatan tanah maksimum terlampaui secara drastis, sementara lama guncangan nan berjalan lama merusak ikatan kohesi antarbutir tanah hingga memicu runtuhan lereng serentak di beragam titik.
"Pulau Flores didominasi oleh batuan vulkanik muda dan endapan piroklastik seperti tuf dan aglomerat nan mengalami pelapukan lanjut. Material tanah dan batuan pelapukan ini mempunyai struktur rentan serta kuat geser nan rendah, sehingga sangat tidak stabil ketika menerima guncangan bergerak secara mendadak," jelas Daryono.
"Kerentanan material batuan tersebut diperparah oleh kondisi morfologi Flores nan didominasi oleh pegunungan dan lereng-lereng terjal dengan kemiringan ekstrem," ujarnya.
Menyusul tetap banyaknya gempa susulan nan terjadi, Daryono mengimbau agar masyarakat menghindari berada di dalam rumah/ gedung nan strukturnya sudah rusak.
"Bangunan yangg sudah mengalami retak struktur akibat gempa M7,7 sangat rentan roboh meski hanya diguncang gempa susulan dirasakan berkekuatan sedang," katanya.
"Guncangan gempa susulan nan berkali-kali dirasakan (felt earthquake) dapat memicu longsor susulan dan longsor baru di wilayah perbukitan, tebing, alias lereng terjal, terutama jika terjadi hujan," tegas Daryono.
Dia pun mengingatkan agar mewaspadai akibat gempa susulan nan tetap terjadi.
"Pastikan jalur keluar rumah alias tempat pengungsian bebas dari reruntuhan alias peralatan berat nan berpotensi menghalangi proses pemindahan saat guncangan susulan terjadi," imbau Daryono.
"Tetap tenang dan terus memantau pembaruan info resmi mengenai aktivitas gempa dari BMKG serta pengarahan dari BPBD setempat," tukasnya.
2.768 Gempa Susulan
Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, hingga 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, sebanyak 2.768 gempa susulan (aftershock) telah terjadi setelah gempa utama berkekuatan M7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB.
Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan sistem pergerakan naik (thrust fault). Dan memicu tsunami di wilayah sekitarnya.
Skala kekuatan gempa susulan tersebut dengan magnitudo M1,1 - M6,2. Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo M>5 sebanyak 24 kejadian dan gempa bumi susulan nan dirasakan berjumlah 81.
Salah satunya, pada hari Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 10:13:28 WIB wilayah Flores, Nusa Tenggara timur diguncang gempa bumi tektonik. Hasil kajian BMKG menunjukkan gempa bumi ini mempunyai parameter pembaruan dengan magnitudo M5.1 pada kedalaman 10 km. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,30° LS; 121,56° BT, alias tepatnya berlokasi di laut pada jarak 50 Km arah timur laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI .
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, hasil sementara pemantauan dan info lapangan, gempa bumi Flores M7,7 menyebabkan 69 korban jiwa dan korban luka-luka 331 jiwa, serta akibat kerusakan berat dan ringan di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka, Maumere.
"Berdasarkan info sementara gempa susulan ini bakal berhujung 3-4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan nan tetap terjadi," kata Wijayanto di Jakarta," kata Wijayanto, Rabu (19/8/2026).
BMKG, sambungnya, bakal terus memantau aktivitas gempa bumi susulan dan menyampaikan pemutakhiran info secara berkala kepada stakeholder dan masyarakat.
"Maka dari itu, masyarakat diimbau untuk memperbarui info resmi BMKG melalui kanal komunikasi resmi nan telah terverifikasi," ujar Wijayanto.
"BMKG telah menerjunkan tim campuran dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakter serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi akibat tsunami di lapangan," tambahnya.
Hari Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 10:13:28 WIB wilayah Flores, Nusa Tenggara timur diguncang gempa bumi tektonik. Hasil kajian BMKG menunjukkan gempa bumi ini mempunyai parameter pembaruan dengan magnitudo M5.1 pada kedalaman 10 km. (Dok BMKG) Foto: Hari Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 10:13:28 WIB wilayah Flores, Nusa Tenggara timur diguncang gempa bumi tektonik. Hasil kajian BMKG menunjukkan gempa bumi ini mempunyai parameter pembaruan dengan magnitudo M5.1 pada kedalaman 10 km.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·