Rumah tahan gempa buatan BRIN di NTT.(Antara)
SEBANYAK 84 kepala family (KK) alias 237 jiwa penyintas gempa bumi magnitudo (M) 7,7 Flores mulai kembali ke rumah masing-masing setelah sebelumnya mengungsi di GOR Samador, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan info posko pengungsian per Senin (24/8) pukul 18.30 WITA, kepulangan tersebut dilakukan secara berjenjang setelah rumah penduduk dipastikan tetap kondusif untuk ditempati.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, proses pemulangan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan penyintas serta berasas hasil pendataan dan verifikasi kondisi bangunan.
"Kepulangan penyintas dilakukan secara berjenjang dengan memastikan kondisi rumah kondusif untuk ditempati. Pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan menjadi dasar dalam menentukan penanganan serta support nan diberikan kepada masyarakat terdampak," kata Berton, Selasa (25/8).
Sebelum meninggalkan letak pengungsian, para penyintas dipanggil satu per satu berasas info kartu keluarga. Mereka juga menerima support kebutuhan pokok untuk mendukung aktivitas setelah kembali ke rumah.
Proses pemulangan difasilitasi BNPB berbareng Pemerintah Kabupaten Sikka, Dinas Sosial, TNI AL, Satpol PP, dan Basarnas. Armada disiapkan untuk mengangkut penyintas beserta barang-barang pribadi dan support sembako menuju rumah masing-masing.
Kepulangan diprioritaskan bagi penduduk nan rumahnya mengalami kerusakan ringan dan berasas pemeriksaan tetap mempunyai struktur nan kondusif untuk dihuni. Pemerintah tetap melakukan verifikasi secara berjenjang untuk memastikan penduduk tidak kembali ke gedung nan membahayakan keselamatan.
Sejak gempa bumi M 7,7 Flores terjadi pada Sabtu (15/8), tercatat sebanyak 300 KK alias 1.290 jiwa mengungsi di GOR Samador. Dengan kepulangan 84 KK alias 237 jiwa, saat ini tetap terdapat 216 KK alias 1.053 jiwa nan berada di letak pengungsian.
Lebih lanjut, BNPB berbareng pemerintah wilayah terus melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan rumah penduduk terdampak. Hasil pendataan tersebut menjadi dasar dalam menentukan corak support nan diberikan agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan penyintas.
Untuk rumah dengan kategori rusak ringan, pemerintah menyiapkan support biaya perbaikan sebesar Rp15 juta. Sementara rumah nan mengalami kerusakan sedang bakal mendapatkan support perbaikan sebesar Rp30 juta. Adapun rumah dengan kategori rusak berat bakal ditangani melalui pembangunan kediaman tetap (huntap).
Sambil menunggu pembangunan huntap selesai, pemerintah menyiapkan solusi sementara bagi penduduk nan rumahnya mengalami kerusakan berat. Penyintas dapat memperoleh biaya tunggu kediaman (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan untuk menyewa rumah alias menempati kediaman sementara (huntara).
Berton menegaskan, pemberian seluruh support tersebut dilakukan berasas hasil pendataan, verifikasi, dan pengesahan berbareng pemerintah daerah. "Proses verifikasi ini krusial untuk memastikan support diterima masyarakat nan berkuasa sekaligus mendukung percepatan pemulihan pascabencana secara tertib dan akuntabel," ujarnya.
Kepulangan sebagian penyintas dari GOR Samador menjadi salah satu parameter bahwa penanganan darurat mulai bergerak menuju tahap pemulihan. BNPB berbareng pemerintah wilayah dan unsur mengenai bakal terus mendampingi masyarakat, memenuhi kebutuhan dasar, serta mempercepat pemulihan kediaman agar penduduk dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari dengan aman. (Fik/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·