Rupiah Gonjang-ganjing Bikin Investor Asing Pikir Panjang Masuk RI

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS nan terus bergolak belakangan ini dinilai tidak serta-merta menjadi angin segar bagi investasi asing di sektor industri. Alih-alih memborong lahan lantaran harganya menjadi lebih murah dalam kurs asing, penanammodal luar negeri justru condong mengambil sikap memperkuat alias wait and see.

CEO Leeds Property Hendra Hartono mengungkapkan, ketidakstabilan rupiah justru merusak kalkulasi jangka panjang para investor, khususnya mengenai tingkat pengembalian investasi alias Return on Investment (ROI).

"Kalau rupiah lagi gonjang-ganjing begini, penanammodal asing tidak bakal langsung masuk. Walaupun mereka memandang rupiah murah, mereka justru sedang menghitung how low can it go? Kalau beli sekarang, kelak jika rupiah terus melemah mereka makin rugi. Apalagi jika disewakan kembali, ROI-nya jadi tidak ketemu saat dikonversi ke dolar," ujar Hendra kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/7/2026).

Adapun industri merupakan sektor paling akhir nan disentuh oleh penanammodal asing saat masuk ke suatu negara. Biasanya, mereka melewati siklus penyesuaian nan panjang sebelum berani menyuntikkan modal besar untuk pabrik alias lahan.

"Investor asing itu tidak datang langsung cari pabrik. Mereka lewat siklus dulu; tinggal di hotel, bicara dengan corporate lawyer alias pengusaha lokal untuk joint venture. Lalu mereka sewa service apartment, pindah ke service office untuk tim kecil, baru cari instansi besar. Terakhir, jika sudah percaya dengan stabilitas politik dan ekonomi di Indonesia, baru mereka investasi di pabrik," jelasnya.

Oleh lantaran itu, industri menjadi sektor nan paling rentan terkena akibat psikologis dari ketidakpastian makroekonomi saat ini. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan penanammodal bakal menghindari komitmen jangka panjang.

"Sektor industri ini paling rentan di antara semuanya untuk pelemahan rupiah ini. Kalau rupiah terus melemah, orang tidak bakal memandang jangka panjang. Akhirnya semua orang bilang 'saya sewa saja pabrik'. Nah, itu nan kita tidak mau. Kita maunya mereka beli lahan, bukan hanya sewa-sewa terus besok-besok bisa exit," tegas Hendra.

Meski pasar industri secara umum tertahan, tetap ada pergerakan pada subsektor penyimpanan logistik dan pabrik siap pakai alias ready-built factory.
Menariknya, aktivitas ini didominasi oleh korporasi asal Tiongkok.

Hal ini terjadi lantaran kondisi ekonomi domestik di negara asal mereka sedang melambat, sehingga mereka garang mencari kesempatan di negara berkembang alias emerging market seperti Indonesia nan tetap menawarkan margin untung dua digit.

"Saat ini fokusnya tinggal ke perusahaan China. Di sana ekonominya sedang melambat, sementara di Indonesia margin nan mereka bisa dapat tetap bagus. Namun lantaran mereka maunya serba sigap dan condong mau meminimalkan akibat jangka panjang, mereka larinya ke developer penyimpanan alias pabrik nan sudah siap pakai," ujar Hendra.

Sebagai catatan, mata duit Garuda kembali dibuka di area merah dalam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini. Merujuk info Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Kamis (9/7/2026), rupiah mengawali perdagangan dengan terdepresiasi 0,33% alias melemah ke level Rp18.050/US$. Dengan pembukaan tersebut, rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000/US$.

Posisi ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan terakhir, rupiah melemah 0,11% ke level Rp17.990/US$.
 

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya