Ilustrasi.(Magnific)
IRAN dan Oman secara resmi mencapai kesepakatan mengenai peta rute pelayaran di Selat Hormuz setelah melalui serangkaian negosiasi teknis selama beberapa pekan. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan keamanan navigasi di salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan pada Sabtu (15/8) bahwa pembahasan antara kedua negara menunjukkan perkembangan signifikan. Negosiasi intensif ini berjalan selama kurang lebih tiga bulan, menyusul penandatanganan nota kesepahaman pada 18 Juni mengenai penetapan rute navigasi nan aman.
"Meskipun ada halangan dari Amerika Serikat (AS), pembicaraan menunjukkan kemajuan positif selama tiga minggu terakhir dan kesepakatan tercapai mengenai peta rute pelayaran," ujar Baghaei sebagaimana dikutip dari Anadolu, Minggu (16/8).
Penyusunan rencana navigasi tersebut dikoordinasikan langsung oleh Kementerian Luar Negeri Iran dengan melibatkan beragam lembaga lintas sektor, mulai dari otoritas pertahanan, keamanan, hingga lembaga lingkungan hidup.
Penyelesaian Pernyataan Bersama
Kendati peta rute disepakati, Baghaei menyebut tetap ada beberapa perincian administratif nan perlu dirampungkan. Salah satunya adalah penyusunan pernyataan berbareng nan bakal dirilis secara resmi oleh Teheran dan Muscat. Komunikasi diplomatik dipastikan terus bersambung hingga seluruh proses negosiasi tuntas secara menyeluruh.
Baghaei menegaskan bahwa kesepakatan ini berkarakter bilateral dan independen. Sebagai dua negara pesisir nan berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, Iran dan Oman berkomitmen menjamin keamanan pelayaran dengan tetap menjunjung tinggi kedaulatan masing-masing negara.
Syarat Pembukaan Jalur Komersial
Namun, pemulihan aktivitas pelayaran komersial secara normal di Selat Hormuz tidak serta-merta terjadi setelah kesepakatan ini. Baghaei menekankan bahwa normalisasi keamanan secara penuh tetap berjuntai pada pemenuhan sejumlah kondisi politik dan militer.
Pihak Iran menilai pembukaan jalur secara total baru dapat dilakukan jika AS menghentikan tindakan nan mereka sebut sebagai aktivitas ilegal, ancaman militer, serta blokade angkatan laut. Selain itu, Teheran menuntut kompensasi atas dugaan pelanggaran komitmen nan dilakukan AS dalam dua bulan terakhir.
Negosiasi teknis itu merupakan tindak lanjut dari kerangka kerja nan melibatkan nota kesepahaman antara Iran dan AS bahwa Teheran dan Muscat diberi mandat untuk menyusun struktur navigasi baru. Meski rute telah siap, Teheran kembali menegaskan bahwa keputusan akhir untuk membuka kembali jalur strategis tersebut berjuntai pada kepatuhan AS terhadap tanggungjawab internasional nan disepakati. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·