Saatnya Koperasi Naik Kelas

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum. Foto/Istimewa

Prof Dr Jamal Wiwoho, SH, MHum
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret-
Rektor UNS 2019-2024

SETIAP tanggal 12 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Koperasi sebagai momentum untuk meneguhkan kembali cita-cita ekonomi nan berpihak kepada kesejahteraan bersama. Di tengah perubahan ekonomi global, disrupsi digital, dan meningkatnya persaingan upaya dan perkembangan geopolitik, peringatan Hari Koperasi tidak cukup hanya menjadi seremoni tahunan. Momentum ini kudu menjadi titik tolak untuk melakukan transformasi agar koperasi betul-betul naik kelas menjadi lembaga ekonomi nan profesional, modern, dan berkekuatan saing untuk memberikan kesejahteraan kepada para anggotanya.

Sejak awal pendiriaannya, koperasi dirancang sebagai sokoguru perekonomian nasional. Amanat tersebut tercermin dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 nan menempatkan asas kekeluargaan sebagai fondasi pembangunan ekonomi. Para pendiri bangsa, terutama bapak koperasi Indonesia, Bung Hatta memandang koperasi bukan sekadar badan usaha, melainkan aktivitas ekonomi nan menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan untuk kesejahteraan. Karena itu, tujuan koperasi tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membangun pemerataan, solidaritas, dan keadilan ekonomi.

Koperasi Terus Berkembang

Berdasarkan info terbaru, jumlah koperasi di Indonesia nan aktif (2025): 222.462 unit. Angka ini merupakan info Badan Pusat Statistik (BPS) dan menjadi jumlah tertinggi dalam satu dekade. Selain itu tetap ada Koperasi Simpan Pinjam (KSP) sekitar 19.000 unit (data Kementerian Koperasi hingga Semester I 2026). Pada bagian lain, komposisi koperasi menurut jenisnya pada semester I tahun 2026 meliputi Koperasi Desa lebih dari 75.000 unit; Koperasi Konsumen: sekitar 72.000 unit. Sedangkan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) sekitar 19.000 unit dan Koperasi Produsen sekitar 31.000 unit serta Koperasi Jasa sekitar 11.000 unit.

Koperasi jenis lain misalnya, Koperasi Pemasaran sekitar 5.400 unit serta Koperasi Kelurahan Merah Putih sekitar 8.600 unit.
Namun kudu diakui bahwa info kwantitatif tersebut belum menunjukkan kualitas koperasi di Indonesia lantaran tetap banyak koperasi nan belum berkembang secara optimal. Sebagian besar tetap menghadapi persoalan tata kelola, kualitas sumber daya manusia, keterbatasan permodalan, rendahnya inovasi, lemahnya pengawasan serta lemahnya pemanfaatan teknologi digital. Tidak sedikit koperasi nan hanya aktif secara administratif, tetapi belum bisa memberikan faedah nyata bagi anggotanya. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh.

Naik Kelas

Dalam konteks koperasi "naik kelas" berfaedah mengubah langkah pandang terhadap koperasi. Di tengah-tengah sistem ekonomi di Indonesia nan berkembang secara simultan antara upaya swasta ( perusahaan perseorangan, persekutuan firma, persekutuan komanditer/ CV dan Perseroan Terbatas/ PT serta Badan Usaha Milik Negara-Daerah/ BUMN-BUMD) maka Koperasi kudu dikelola dengan prinsip profesionalisme, transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola nan baik. Organ Pembina, Pengurus dan Pengawas tidak cukup hanya mempunyai semangat pengabdian semata, tetapi juga kompetensi manajerial, keahlian membaca kesempatan usaha, serta keberanian berinovasi secara intersifikasi maupun ekstensifikasi dalam melakukan beragam macam jenis usaha. Pada sisi lain, personil kudu diposisikan sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi nan aktif berperan-serta dalam setiap pengambilan keputusan dan tidak hanya mengharapkan sisa hasil upaya semata-mata.

Transformasi digital juga menjadi kebutuhan nan tidak dapat ditunda. Digitalisasi administrasi, jasa keuangan, pemasaran produk, hingga pengelolaan info personil bakal meningkatkan efisiensi dan memperluas akses pasar. Koperasi tidak boleh tertinggal dalam memanfaatkan teknologi lantaran pelaku upaya lain ( swasta dan BUMN/ BUMD) telah bergerak lebih sigap memanfaatkan ekosistem digital. Dengan inovasi, koperasi bisa menjangkau generasi muda nan selama ini belum banyak memandang koperasi sebagai pilihan upaya nan menarik.

Selengkapnya