Sebut Ekonomi Tangguh, Negara Ini Pecat Ekonom yang Peringatkan Krisis

56 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia bersikeras ekonominya tetap tangguh. Tetapi, sebagaimana dimuat CNBC International Rabu (19/8/2026), negeri itu malah memecat seorang ahli ekonomi terkemuka setelah memperingatkan bahwa perang di Ukraina dapat memicu krisis sosial.

Sebelumnya, pejabat pemerintah Presiden Vladimir Putin memang mengatakan bahwa ekomnmi negara itu tetap sehat dan kuat meskipun menghadapi "tekanan asing nan belum pernah terjadi sebelumnya", setelah invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada awal 2022.

Hal ini berbeda dengan pandangan mantan kepala ahli ekonomi bank pembangunan milik negara Rusia, VEB, Andrei Klepach. Ia diberhentikan pada Minggu setelah memperingatkan bahwa Rusia tidak bakal bisa memenangkan perang panjang melawan Ukraina dan memperkirakan bakal terjadi krisis sosial besar.

"Pemecatan Klepach disebut berangkaian langsung dengan penilaiannya nan keras terhadap kondisi ekonomi Rusia," muat media independen Rusia, The Bell, melaporkan dengan mengutip sumber anonim.

Sebenarnya Apa nan Terjadi?

Hal ini dimulai Mei lalu. Kala itu, dalam sebuah pidato di depan sesama ekonom, Klepach mengatakan kritik tajamnya ke perang nan tetap terus berjalan antara Rusia dan Ukraina.

"Dalam perang nan menguras sumber daya ini, kita tidak bakal memenangkan persaingan. Kita berada dalam ilusi bahwa semuanya bakal runtuh. Itu belum terjadi dan tidak bakal terjadi. Biaya nan kudu kita tanggung terus meningkat," kata Klepach saat itu.

Meski menegaskan Rusia tak bakal mengalami keruntuhan ekonomi, dia percaya krisis besar bakal datang. Menurutnya ketertinggalan negara itu bakal semakin melebar.

"Saya percaya Rusia tidak bakal runtuh, tetapi saya nyaris percaya bahwa kita pada akhirnya bakal menghadapi krisis sosial. Kita tidak bakal runtuh secara ekonomi, tetapi ketertinggalan kita bakal semakin melebar, dengan segala konsekuensinya," tegasnya.


Kondisi Fiskal nan Kuat?

Pernyataan itu sontak dibantah pejabat pemerintah Rusia. Melalui kedutaan besarnya di Inggris misalnya, Rusia mengatakan bahwa posisi fiskal mereka tetap "secara signifikan lebih kuat" dibandingkan banyak negara Barat.

Ini merujuk pada utang publik luar negeri Rusia nan berada di kisaran US$57 miliar sekitar Rp1.016 triliun. Ditegaskan bahwa nomor itu "jauh lebih kecil" dibandingkan jumlah nan dibayarkan Amerika Serikat (AS), Inggris, Italia, alias Prancis hanya untuk bayar biaya pelayanan utang.

"Ekonomi Rusia tetap tangguh, begitu pula tekad rakyat kami," kata ahli bicara Kedutaan Besar Rusia untuk Inggris melalui email kepada CNBC International.

"Upaya untuk melemahkan Rusia melalui tekanan ekonomi tidak menghasilkan akibat seperti nan diharapkan para pencetusnya," tambahnya.

"Sebaliknya, Barat-termasuk Inggris-juga kudu bayar nilai nan cukup besar akibat kebijakan hukuman nan sembrono. Perusahaan-perusahaan Inggris kehilangan akses ke pasar Rusia, sementara gangguan rantai pasok serta kenaikan biaya daya dan komoditas menambah beban bagi perekonomian Inggris."

Justru Ekonomi Kini Mengkhawatirkan?

Sementara itu, ahli ekonomi Swedia dan mantan peneliti senior di Atlantic Council, mengatakan berita pemecatan Klepach bukan sesuatu nan mengejutkan. Karena, tambahnya, dia menyimpulkan Rusia tidak memenangkan perang.

"Dalam kajian nan sangat penting, dia menyimpulkan bahwa Rusia tidak dapat memenangkan perang nan menguras sumber daya melawan Ukraina dan kemungkinan bakal berhujung dalam krisis sosial seperti pada 1917," kata Aslund melalui X pada Minggu.

Hal sama juga diamini peneliti senior untuk Rusia dan Eurasia di International Institute for Strategic Studies, Nigel Gould-Davies. Dikatakannya sebenarnya bunyi Klepach hanya mewakili, satu dari bunyi ekonom-ekonom Rusia nan khawatir.

"Saya sudah lama mengatakan bahwa ekonom-ekonom terbaik Rusia adalah mereka nan paling khawatir. Hal ini kembali mengonfirmasinya," kata Gould-Davies melalui media sosialnya.

Perlu diketahui, ekonomi Rusia dalam masa perang menjadi sorotan lebih tajam dalam beberapa pekan terakhir akibat serangan drone jarak jauh Ukraina terhadap kilang minyak dan penyimpanan pengedaran Rusia. Meski ekonomi Rusia bisa memperkuat di luar ekspektasi dan apalagi tetap tumbuh secara perlahan berasas info terbaru, para analis mengatakan pertumbuhan tersebut menyembunyikan sejumlah persoalan.

Rusia sekarang sangat berjuntai pada shopping militer. Negara itu juga sangat mengandalkan kenaikan pajak dan penyaluran angsuran perbankan bersubsidi.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya