Sejarawan dan Akademisi Apresiasi Kepemimpinan Wali Kota Agustina Selamatkan Artefak dan Arsip Kemaritiman

3 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Pertemuan Wali Kota Semarang berbareng para master sejarah, akademisi, dan kolektor artefak di Medan.

SEMARANG - Komitmen Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam menyelamatkan artefak sejarah dan memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota maritim mendapat apresiasi luas dari kalangan sejarawan dan akademisi. Langkah Pemerintah Kota Semarang nan aktif menelusuri, mengumpulkan, dan mengembalikan dokumen-dokumen berhistoris dinilai sebagai terobosan krusial dalam upaya menyelamatkan memori kolektif bangsa sekaligus memperkuat jati diri kota.

Apresiasi tersebut mengemuka dalam pertemuan Wali Kota Semarang dengan para master sejarah, akademisi, dan kolektor artefak di Medan, nan dihadiri Dr. Ir. Jimmy Lassang Manahara Siahaan M.CP, Dr. Saparudin Barus, S.T., M.M, Prof. Ikhwan, Prof. Robert Sibarani serta perwakilan Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) Sumatera Utara pada Rabu (1/7).

Menurut Guru Besar Kebudayaan, Prof. Robert Sibarani, tidak banyak kepala wilayah nan mempunyai perhatian serius terhadap pengamanan arsip dan artefak sejarah. Karena itu, langkah Wali Kota Semarang dinilainya sebagai contoh kepemimpinan nan berpandangan jauh ke depan.

"Langkah Wali Kota Semarang ini merupakan preseden nan sangat baik. Sejarah sebuah kota sering kali tercecer di beragam daerah, apalagi di luar negeri. Ketika seorang kepala wilayah berinisiatif mengumpulkan kembali arsip dan artefak sejarah, sesungguhnya dia sedang menyelamatkan identitas, peradaban, dan ingatan kolektif masyarakatnya," ujar Prof. Robert Sibarani.

Ia menambahkan, pelestarian sejarah bukan sekadar mengumpulkan benda-benda kuno, melainkan menghadirkan kembali nilai-nilai nan menjadi fondasi pembangunan kota.

Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kota Semarang menerima sejumlah koleksi bersejarah, antara lain 13 surat berbobot berupa saham Hotel du Pavillon (kini Hotel Dibya Puri) tahun 1892, surat sero NV Seng Tek Jia tahun 1955, hingga obligasi Semarangsche Administratie Maatschappij senilai lima juta Gulden pada masanya serta artefak berupa lampu angin besar kapal kuno.

Selengkapnya