ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Negara kebanyakan muslim, Turki, bakal menjadi tua rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO 2026. Ankara bakal mengumpulkan 32 pemimpin negara personil NATO, serta para pejabat tinggi dari area Teluk dan Asia-Pasifik, pdari 7 hingga 8 Juli nanti.
KTT ini sengaja digelar dengan misi utama untuk memperkuat draf deterensi militer serta menunjukkan persatuan internal blok tersebut. Ini terjadi di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal penarikan mundur pasukan, jet tempur, hingga kapal perang Paman Sam dari Eropa akibat perselisihan anggaran pertahanan dan keengganan sekutu membantu pengamanan jalur daya Selat Hormuz.
"NATO terus menjadi platform nan tak tertandingi dan esensial bagi keamanan dan pertahanan Euro-Atlantik," kata Menteri Pertahanan Turki, Yasar Guler, merujuk laporan Reuters Rabu (1/7/2026).
"Kami menilai periode nan sedang kita lalui ini bukan sebagai krisis, melainkan sebagai proses penyesuaian terhadap lingkungan keamanan nan berubah," tambahnya menyebut bentrok beberapa negara NATO dengan AS.
Guler menambahkan bahwa komitmen penangkalan nuklir (extended deterrence) dan kehadiran militer Washington tetap menjadi pilar strategis nan sangat krusial bagi stabilitas pakta pertahanan tersebut. Oleh lantaran itu, KTT kelak diharapkan membikin draf pembentukan peta jalan konkret untuk memperkuat pilar pertahanan berdikari Eropa.
"Diharapkan kontak dan upaya dalam menciptakan peta jalan konkret untuk memperkuat pilar Eropa bakal diintensifkan pada KTT tersebut," tegasnya.
Di kesempatan nan sama, Guler, juga menegaskan bahwa AS sebenarnya tidak beriktikad untuk keluar dari NATO. Melainkan hanya menuntut sekutu Eropa dan Kanada untuk memikul tanggung jawab lebih besar terhadap keamanan area Euro-Atlantik.
Turki sendiri muncul sebagai kekuatan militer terbesar kedua di tubuh NATO. Turki tercatat telah sukses memangkas ketergantungan industri pertahanannya dari pihak luar secara drastis melalui pengembangan teknologi lokal mandiri.
Kendati demikian, Ankara menyayangkan sikap sejumlah negara Barat nan kerap menjaga jarak dan mengucilkan Turki dari beragam proyek inisiatif pertahanan berbareng di Eropa. Hal ini lantaran perbedaan pandangan politik.
"Kami percaya bahwa mengecualikan kapabilitas krusial seperti (Turki) dari inisiatif pertahanan Eropa adalah pendekatan nan tidak jeli secara strategis," kritik Guler nan mendesak Eropa mengangkat pendekatan visioner demi efektivitas pertahanan kawasan.
Guna membuktikan komitmennya terhadap aliansi, Turki menegaskan kesiapannya untuk mengejar sasaran shopping pertahanan sebesar 5% dari PDB pada tahun 2035 mendatang. Di mana negeri itu bakal konsentrasi pada alokasi anggaran pada sektor pesawat nirawak (drone), sistem pertahanan udara terintegrasi "Steel Dome", proyek angkatan laut, serta keamanan siber.
Mengingat kebutuhan draf rudal pertahanan udara domestik nan mendesak, Guler mengonfirmasi bahwa Ankara saat ini tetap membuka opsi pembelian sistem Patriot dari AS maupun draf sistem SAMP-T milik konsorsium Prancis-Italia.
"Pendekatan inti kami dalam masalah ini jelas: kami terbuka untuk semua kerja sama nan memenuhi kebutuhan keamanan negara kami, nan mencakup pembagian teknologi dan produksi bersama, serta berkepanjangan dan sejalan dengan semangat aliansi," pungkasnya.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·