Sekda Kabupaten Bekasi Endin Samsudin berbareng PMI menyalurkan support air bersih untuk penduduk Kampung Cihanjuang, Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, beberapa waktu lalu.(DOK.PEMKABBEKASI)
PEMERINTAH Kabupaten Bekasi mulai mengalihkan konsentrasi penanganan krisis air bersih dari metode konvensional pengedaran tangki menuju penerapan teknologi sumur satelit. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bekasi, Endin Samsudin, menegaskan bahwa pembangunan sumur satelit di setiap desa terdampak menjadi solusi permanen untuk mengatasi kekeringan nan kian meluas.
Langkah ini diambil menyusul info terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi nan menunjukkan eskalasi akibat kekeringan. Hingga Kamis (13/8) malam, krisis air telah menyebar ke 172 titik letak di 32 desa nan mencakup 11 kecamatan.
Transisi Teknologi: Dari Tangki ke Sumur Satelit
Selama ini, Pemkab Bekasi mengandalkan pengedaran air bersih melalui truk tangki. Berdasarkan catatan BPBD, setidaknya 5.095.300 liter air telah disalurkan melalui kerjasama dengan beragam stakeholder. Namun, Endin menilai metode ini hanya berkarakter support sementara.
"Kalau sekarang nan bisa kita lakukan tetap pengedaran air bersih menggunakan tangki. Dengan adanya sumur satelit, kami berambisi ke depan tidak ada lagi antrean penduduk nan menyiapkan galon dan ember," ujar Endin dalam keterangannya, Jumat (14/8).
Teknologi sumur satelit diproyeksikan sebagai prasarana air bersih berdikari di tingkat desa. Dengan mempunyai minimal satu sumur satelit per desa, wilayah nan susah dijangkau jaringan pipa PDAM dapat mempunyai sumber air baku nan stabil dan berkelanjutan, apalagi saat musim tandus panjang.
Data Dampak Kekeringan Kabupaten Bekasi (Per 13 Agustus):
- Populasi Terdampak: 18.801 KK (57.639 jiwa).
- Sektor Pertanian: 1.827 hektare lahan di 45 desa.
- Wilayah Terparah: Kecamatan Cibarusah (53 titik) dan Bojongmangu (42 titik).
Pemetaan Wilayah Krisis
Implementasi teknologi sumur satelit ini bakal diprioritaskan pada wilayah dengan tingkat kerawanan tertinggi. Data BPBD menunjukkan konsentrasi kekeringan terparah berada di wilayah selatan, namun wilayah utara juga mulai menunjukkan urgensi serupa.
| Bekasi Selatan | Cibarusah (53), Bojongmangu (42), Serang Baru (36), Cikarang Selatan (7), Cikarang Pusat (1) |
| Bekasi Utara | Babelan (10), Pebayuran (9), Sukatani (8), Tarumajaya (2), Sukawangi (1), Cabangbungin (1) |
Keunggulan dan Tantangan Implementasi
Secara teknis, sumur satelit menawarkan efisiensi jangka panjang dibandingkan biaya operasional pengedaran air tangki nan tinggi. Namun, pembangunannya memerlukan kajian geohidrologi nan matang agar pengambilan air tanah tidak merusak ekosistem lingkungan sekitar.
Endin berambisi ekspansi pembangunan sumur ini dapat dilakukan secara bertahap. "Jika setiap desa mempunyai satu sumur satelit, persoalan kekeringan sedikit demi sedikit bisa kita atasi secara permanen," tambahnya. Integrasi antara teknologi penyediaan air dan manajemen pengedaran di tingkat desa menjadi kunci agar prasarana ini tidak hanya dibangun, tetapi juga terawat fungsinya bagi masyarakat.
Pemerintah wilayah berkomitmen untuk terus menggandeng bumi usaha, yayasan, dan organisasi dalam mempercepat pengadaan sumur satelit ini, mengingat luasnya lahan pertanian dan jumlah masyarakat nan terdampak di Kabupaten Bekasi saat ini. (AK/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·