Sektor Pertambangan dan Konstruksi Dongkrak Pendapatan 35 Persen

2 jam yang lalu 3
Sektor Pertambangan dan Konstruksi Dongkrak Pendapatan 35 Persen Sektor pertambangan.(dok.istimewa)

PERUSAHAAN sektor bangunan PT PP Presisi Tbk (PPRE), anak perusahaan dari BUMN PTPP, mencatatkan perjanjian baru senilai Rp1,5 triliun hingga kuartal II-2026, nan didominasi dari segmen jasa pertambangan dan bangunan dengan kontribusi sebesar 97%.

“Capaian ini menjadi bagian dari proses penguatan perseroan menuju keahlian nan lebih sehat dan berkelanjutan. Kami bakal terus menjaga tata kelola, disiplin pengelolaan keuangan, serta kualitas operasional perseroan,” ujar Vice President Corporate Secretary PPRE, Mei Elsa Kembaren dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (19/8).

Seiring capaian perjanjian baru, perseroan mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp2,2 triliun hingga Juni 2026, alias tumbuh 35% year on year (yoy) dibandingkan sebesar Rp1,6 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan tersebut mencerminkan aktivitas operasional nan tetap terjaga sekaligus memperkuat posisi upaya utama PPRE, di tengah dinamika industri jasa pertambangan dan konstruksi,” ujar Mei.

Pendapatan perseroan paling besar dikontribusikan dari segmen pertambangan dan bangunan sebesar 97,3%, nan menunjukkan konsistensi perseroan dalam menjalankan konsentrasi upaya utama sekaligus memperkuat kapabilitas sebagai perusahaan jasa pertambangan dan konstruksi.

Dari sisi profitabilitas, perseroan menekan rugi tahun melangkah sebesar 93,4% (yoy) menjadi senilai Rp88,6 miliar hingga Juni 2026, dibandingkan rugi sebesar Rp1,3 triliun pada 2025.

"Pertumbuhan pendapatan menunjukkan aktivitas operasional PPRE tetap terjaga. Penurunan rugi juga menjadi perkembangan positif dalam proses penguatan esensial PPRE. Ke depan, kami konsentrasi pada efisiensi, produktivitas, optimasi aset, serta peningkatan kualitas dan profitabilitas proyek,” ujar Direktur Utama PPRE, Rizki Dianugrah.

Lebih lanjut, perseroan juga mencatatkan perbaikan ialah beban penurunan nilai nan turun dari sebelumnya Rp656 miliar pada 2025 menjadi Rp57,9 miliar pada Juni 2026.

Sementara itu, beban finansial tercatat sebesar Rp167,7 miliar pada Juni 2026, alias lebih rendah dibandingkan Rp171,4 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Ke depan, perseroan memastikan bakal terus memperkuat kapabilitas di sektor jasa pertambangan dan konstruksi, mengoptimalkan aset dan portofolio proyek, serta meningkatkan efisiensi sebagai bagian dari langkah mewujudkan visi menjadi perusahaan jasa pertambangan dan bangunan nan terkemuka di Indonesia. (Ant/P-3)

Selengkapnya