Sekutu AS Klaim Kemenangan atas China di "Arena Perang" Dekat RI

1 jam yang lalu 1
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Filipina mengeklaim meraih keberhasilan diplomatik krusial setelah China mencabut sebuah struktur terapung nan sebelumnya dipasang di area sengketa Scarborough Shoal di Laut China Selatan. Meski demikian, militer Filipina menegaskan bahwa langkah tersebut belum mengakhiri perselisihan nan berjalan lama, lantaran Beijing dinilai tetap berupaya memperkuat kehadirannya di wilayah nan menjadi salah satu titik panas utama di area Indo-Pasifik.

Juru bicara Angkatan Laut Filipina Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad mengatakan struktur terapung milik China nan berada di Scarborough Shoal telah dibongkar dan dipindahkan pekan lalu. Menurut Manila, keberhasilan tersebut merupakan hasil tekanan diplomatik nan diberikan kepada Beijing.

"Struktur itu sudah tidak ada lagi di sana. Mereka telah memindahkannya. Kami menganggap ini sebagai kemenangan besar bagi kami melalui tekanan diplomatik," kata Trinidad kepada Newsweek, dikutip Jumat (26/6/2026).

Namun, dia mengingatkan bahwa Filipina tidak menganggap persoalan tersebut telah selesai sepenuhnya.

"Namun ini belum akhir dari segalanya, lantaran tetap ada fitur-fitur lain nan tetap berada di sana... China dikenal sering mundur satu langkah, lampau kembali maju dua langkah," ujarnya.

Scarborough Shoal, nan oleh Filipina disebut Bajo de Masinloc dan oleh China disebut Huangyan Island, terletak sekitar 140 mil dari pulau terbesar Filipina dan berada jauh di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina nan mencapai 200 mil laut. Sebaliknya, letak tersebut berada sekitar 540 mil dari daratan utama China.

Meski demikian, Beijing menyatakan mempunyai kewenangan historis atas sebagian besar wilayah Laut China Selatan, sebuah jalur pelayaran strategis nan sekarang menjadi arena persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Posisi Filipina nan merupakan sekutu perjanjian pertahanan Washington menjadikan negara kepulauan berpenduduk sekitar 113 juta jiwa itu berada di garis depan rivalitas dua kekuatan bumi tersebut.

Menurut Trinidad, Manila cemas keberadaan struktur terapung itu merupakan tahap awal menuju pembangunan instalasi permanen, seperti nan sebelumnya dilakukan China di sejumlah pulau dan terumbu karang nan disengketakan di Laut China Selatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah membangun beragam akomodasi permanen di sejumlah wilayah sengketa, termasuk landasan pacu, pelabuhan, dan akomodasi militer lainnya.

China sendiri menyatakan bahwa struktur terapung tersebut digunakan untuk aktivitas penelitian ilmiah dan telah dicabut setelah misi penelitian selesai.

Namun Trinidad mempertanyakan argumen tersebut dan mengatakan bahwa andaikan betul digunakan untuk penelitian, maka China semestinya membuka hasil penelitiannya kepada publik.

Adapun setelah struktur tersebut dicabut, Kedutaan Besar China di Manila menyatakan bahwa penggunaannya memang mengenai penelitian ilmiah nan sekarang telah selesai dilaksanakan.

Dalam pernyataan nan disampaikan Senin, Wakil Juru Bicara Kedutaan Besar China Guo Wei menegaskan bahwa Beijing bakal terus mempertahankan klaimnya di Laut China Selatan.

"China bakal dengan tegas menjaga kedaulatan wilayah serta kewenangan dan kepentingan maritimnya di Laut China Selatan, sembari tetap berkomitmen menyelesaikan sengketa mengenai dan mengelola situasi maritim melalui negosiasi dan konsultasi," kata Guo.

Ia juga meminta Filipina untuk tidak memperbesar rumor tersebut.

"China mendesak pihak Filipina untuk berakhir membesar-besarkan rumor ini dan menghentikan provokasi, serta terus mengelola perbedaan nan ada melalui perbincangan diplomatik," lanjutnya.

Sementara itu, meski struktur terapung telah dicabut, konfrontasi di area tersebut belum mereda. Angkatan Laut Filipina menyatakan bahwa patroli nan mereka lakukan pada akhir pekan lampau dihadang oleh empat kapal perang China ketika menjalankan misi di area itu.

Trinidad mengatakan Filipina bakal terus melakukan patroli rutin namun tidak mencari konfrontasi dengan pihak mana pun.

"Kami tidak mau para nelayan kami, kami tidak mau pemerintah, kami tidak mau rakyat Filipina menerima realitas baru seolah-olah itu adalah realita nan kudu diterima, bahwa kami tidak boleh pergi ke sana," kata dia.

Saat ditanya mengenai kemungkinan peran Amerika Serikat dalam kejadian Scarborough Shoal, mengingat kedua negara terikat perjanjian pertahanan bersama, Trinidad menegaskan keyakinannya terhadap komitmen Washington.

"Perjanjian pertahanan berbareng itu tetap ada. Amerika Serikat memberikan support penuh, dan komitmennya sangat kuat serta tidak tergoyahkan," ujarnya.

Menurut Trinidad, meskipun muncul pertanyaan mengenai komitmen aliansi AS setelah perang di Ukraina dan bentrok nan melibatkan Iran di Timur Tengah, dinamika keamanan di Asia-Pasifik berbeda dari area lain.

Secara strategis, Filipina merupakan bagian dari apa nan dikenal sebagai "First Island Chain" alias Rantai Pulau Pertama berbareng Jepang dan Taiwan. Rangkaian wilayah tersebut dipandang Washington sebagai komponen krusial dalam upaya membatasi ekspansi pengaruh China di Samudra Pasifik.

Seiring meningkatnya ketegangan dengan Beijing, Manila juga mempererat hubungan keamanan dengan Jepang dan Taiwan. Pemerintah Filipina menilai negaranya kemungkinan tidak bakal terhindar dari akibat andaikan China suatu saat melakukan serangan terhadap Taiwan, nan oleh Beijing dianggap sebagai bagian dari wilayahnya sendiri.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya