ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan ke Iran di tengah penutupan Selat Hormuz hingga waktu nan tidak ditentukan. Sebanyak 140 sasaran militer Iran jadi sasaran serang saat itu.
"Iran membikin pilihan nan buruk. Mereka menanggung hasilnya sekarang," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dikutip dari BBC, Minggu (12/7/2026).
Situasi memanas dimulai saat tiga kapal tanker diserang Iran saat mencoba melintasi jalur laut internasional. Saat itu semua kapal mencoba melintasi melewati perairan Oman nan direkomendasikan AS.
Namun Iran mengatakan satu-satunya rute kondusif adalah rute terpisah melalui perairannya. Insiden itu kemudian diikuti oleh tindakan jawaban dari kedua belah pihak.
Termasuk serangan nan dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke pangkalah AS dan sekutu di wilayah tersebut. Salah satu nan jadi sasaran serangan adalah pangkalan AS di Yordania.
Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait dan Bahrain juga mendapatkan serangan rudal dan drone dari Iran.
Pihak IRGC juga memastikan setiap tindakan AS sebagai akibat penutupan bakal ditanggapi dengan keras. Termasuk memasukkan sasaran pangkalan-pangkalan baru di wilayah tersebut.
Berbagai serangan terbaru ini juga membikin pertanyaan soal kesepakatan tenteram dua negara. Ketegangan dua negara kembali meningkat.
Presiden AS Donald Trump menjelaskan serangan Iran berfaedah gencatan senjata telah berakhir. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuding AS lah nan melanggar kesepakatan tersebut.
Namun para pemimpin AS memastikan pembicaraan tetap berlanjut. Para mediator juga berupaya untuk tetap melanjutkan proses.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·