Sepak Bola di Persimpangan

49 menit yang lalu 1
Sepak Bola di Persimpangan Presiden FIFA Gianni Infantino melambaikan tangan saat tiba di upacara pelantikan Presiden terpilih Abelardo de la Espriella di Cali, Kolombia, pada 7 Agustus 2026. Tekanan terhadap Infantino terus bertambah. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF) Lis(AFP/COLOMBIAN PRESIDENCY)

DUNIA sepak bola internasional sekarang berada di periode perpecahan besar seiring dengan memanasnya hubungan antara dua otoritas tertinggi, FIFA dan UEFA. Perselisihan nan awalnya dipicu oleh perbedaan pandangan mengenai almanak kompetisi, sekarang telah beralih bentuk menjadi perebutan pengaruh nan menakut-nakuti stabilitas pengelolaan sepak bola global.

Media asal Italia, Il Messaggero, melaporkan bahwa keretakan hubungan ini sudah mencapai tahap nan susah untuk dipulihkan tanpa adanya perubahan sikap nan signifikan dari Presiden FIFA, Gianni Infantino. Konflik ini dianggap krusial lantaran melibatkan dua lembaga dengan pengaruh masif terhadap klub, pemain, hingga industri sepak bola secara keseluruhan.

Kontroversi FFE dan Tudingan Personal

Ketegangan mencapai puncaknya setelah FIFA menggagas pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan komersial ini direncanakan untuk membuka pintu bagi investasi swasta pada turnamen-turnamen besar, termasuk Piala Dunia. Namun, pendapat tersebut menuai gelombang kritik keras hingga akhirnya terpaksa dibatalkan.

Selain rumor organisasi, tekanan terhadap Infantino juga merembet ke ranah pribadi. Muncul laporan mengenai dugaan penyalahgunaan biaya UEFA saat dia tetap menjabat sebagai Sekretaris Jenderal pada periode 2009-2016. Dana tersebut diduga dikucurkan untuk membiayai keperluan pribadi, termasuk biaya kuliah seorang pegawai wanita nan disebut mempunyai kedekatan dengan Infantino.

Reaksi Keras FIFA

Menanggapi beragam pemberitaan negatif tersebut, pihak FIFA menyatakan bahwa perihal ini merupakan bagian dari upaya terkoordinasi untuk melemahkan kepemimpinan Infantino. FIFA menegaskan bakal mengambil langkah norma terhadap info nan dianggap menyesatkan, terutama menjelang pemilihan Presiden FIFA pada Maret 2027.

"Pengawasan nan sah bukanlah izin untuk memutarbalikkan fakta, memperbesar tudingan nan tidak berdasar, alias menciptakan pengalihan perhatian nan dirancang untuk melemahkan kemajuan," tulis pernyataan resmi FIFA.

Organisasi tersebut juga menyindir pihak-pihak nan mencoba menggoyang kepemimpinan melalui jalur non-demokratis. "Pihak nan tidak memperoleh support dari asosiasi personil FIFA semestinya tidak berupaya mendapatkan melalui tudingan alias info nan salah sesuatu nan tidak dapat mereka raih melalui proses demokratis," tambah pernyataan tersebut.

Desakan Mundur dan Ancaman Boikot

Di Eropa, gelombang penolakan terhadap Infantino semakin nyata. Presiden Federasi Sepak Bola Norwegia (NFF), Lise Klaveness, secara terbuka menuntut pengunduran diri sang presiden. "Kami bakal meminta Presiden FIFA untuk mengundurkan diri sekarang," tegas Klaveness.

UEFA, sebagai penentang utama, apalagi kembali melontarkan ancaman untuk memboikot Piala Dunia. Konfederasi Eropa tersebut menyatakan telah kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap kepemimpinan Infantino. Meski demikian, hingga saat ini Infantino tetap memperkuat dan tetap menjadi calon tunggal untuk periode kepemimpinan berikutnya.

Dukungan dari Luar Eropa

Meski ditekan habis-habisan oleh blok Eropa, Infantino tetap mempunyai pedoman support nan kuat di wilayah lain. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan sejumlah negara Amerika Selatan (CONMEBOL) tetap berdiri di belakangnya.

Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez, menekankan pentingnya perbincangan dibandingkan konfrontasi. "Kita tidak dapat mengabaikan pekerjaan besar nan telah dilakukan Infantino. Kita kudu terus bekerja melalui dialog, meski tidak kudu selalu sepakat," ujar Dominguez.

Dukungan nyata juga mengalir dari federasi negara-negara seperti Argentina, Paraguay, Venezuela, Ekuador, hingga Meksiko. Peta kekuatan nan terbelah ini menunjukkan adanya polarisasi tajam antara kubu Eropa nan kritis dengan konfederasi luar Eropa nan tetap menginginkan Infantino tetap menjabat. (I-3)

Selengkapnya