Siapa Pejabat Bersama Trump dan Air Force One saat Hindari Ancaman Pembunuhan Iran?

43 menit yang lalu 3
Siapa Pejabat Bersama Trump dan Air Force One saat Hindari Ancaman Pembunuhan Iran? Natalie Harp.(Dok Istimewa)

PRESIDEN Donald Trump dilaporkan meninggalkan diplomat tinggi, kepala Departemen Keuangan, dan rombongan pers Gedung Putih dalam akibat serangan rudal Iran nan mematikan, sementara dia terbang pulang dari Turki secara rahasia bulan lalu. Trump melakukan perjalanan tersebut hanya dengan segelintir staf kepercayaan, termasuk asisten muda nan jarang meninggalkan sisinya.

Laporan The Washington Post pada Rabu (12/8) mengungkapkan bahwa truk katering digunakan untuk menyelundupkan Trump keluar dari pesawat Boeing 747 nan dimodifikasi--yang sebelumnya dia naiki secara terbuka--setelah KTT NATO tahun ini. Trump kemudian pindah ke pesawat C-32A, jenis militer dari Boeing 757, yang saat itu sedang digunakan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Lingkaran Dalam di Penerbangan Rahasia

Dalam penerbangan terselubung tersebut, Trump didampingi oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, Direktur Operasi Ruang Oval Walt Nauta, dan Natalie Harp. Harp, asisten pelaksana berumur 34 tahun nan dijuluki printer manusia, dikenal lantaran tugasnya menyediakan cetakan tulisan buletin dan unggahan media sosial dalam format besar untuk Trump.

Sementara itu, pejabat kabinet lain seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta Direktur Komunikasi Stephen Cheung tetap berada di pesawat Boeing 747. Pesawat tersebut tetap menggunakan tanda panggilan (call sign) Air Force One sebagai umpan, sementara pesawat nan membawa Trump terbang dengan tanda panggilan REACH 88.

Strategi Perlindungan Secret Service

Operasi ini dirancang oleh Secret Service sebagai upaya melindungi presiden dari ancaman rudal darat-ke-udara Iran dan potensi serangan rudal panggul. Intelijen Amerika Serikat sebelumnya memperingatkan ada ancaman nyata terhadap transportasi presiden.

Ancaman ini juga nan membikin Trump meninggalkan pesawat VC-25 Bridge pemberian pemerintah Qatar dan memilih Boeing era 1990-an lantaran pesawat nan lebih baru tersebut dianggap kekurangan sistem pertahanan rudal nan memadai.

Kontroversi Pesawat Umpan

Keputusan untuk memindahkan Trump secara rahasia dan membiarkan staf serta pers tetap berada di pesawat nan berfaedah sebagai umpan memicu pertanyaan etis. Muncul kekhawatiran bahwa otoritas keamanan secara sengaja menempatkan puluhan nyawa dalam ancaman demi melindungi presiden.

Namun, Trump memihak keputusan tersebut. Ia mengeklaim bahwa dirinya justru berada dalam ancaman nan lebih besar di pesawat nan dia tumpangi secara rahasia.

"Saya pikir sebenarnya pesawat nan saya tumpangi mempunyai akibat lebih besar," ujar Trump kepada wartawan pada Selasa malam. "Saya pikir itu lebih berisiko lantaran itulah pesawat nan kemungkinan besar bakal mereka incar."

Ketika ditanya apakah dia membahayakan nyawa penumpang di pesawat umpan, Trump menegaskan bahwa dia hanya mengikuti petunjuk keamanan. "Ini betul-betul terserah Secret Service. Saya hanya mengikuti apa nan mau mereka lakukan. Mereka mau saya naik penerbangan nan berbeda, pesawat nan berbeda, dengan keamanan nan setara. Saya melakukan apa nan mereka katakan," pungkasnya. (The Independent/I-2)

Selengkapnya