.(MI/Arnoldus Dhae)
SOLIDARITAS BaliNusra alias nan dalam sejarah masa lampau lebih dikenal dengan Sunda Kecil kembali ditunjukkan oleh tiga gubernur untuk korban gempa Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat terjadi gempa Flores, Gubernur Bali Wayan Koster dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal langsung berangkat menuju Flores melalui tiba di Bandara Labuan Bajo. Tujuannya untuk meninjau langsung akibat gempa M7,7 di Flores.
Sementara Gubernur NTT Emanuel Melkiadess Laka Lena sudah berada di disana menyambut kedua gubernur Sunda Kecil tersebut. Kedatangan Gubernur Bali dan NTB ke Flores untuk memberikan support kemanusiaan lantaran merasa solidaritas nan tinggi.
Pemerintah Provinsi Bali dan NTB bersinergi dengan Kodam IX/Udayana mengirimkan tim medis, logistik, serta melakukan asesmen kebutuhan penduduk di letak terdampak. Kehadiran para pemimpin wilayah ini diterima oleh Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena guna mempercepat pemulihan psikologis dan prasarana bagi para pengungsi.
Konsep Trio Gubernur Sunda Kecil merujuk pada inisiatif kerja sama regional strategis antara tiga kepala daerah, ialah Gubernur Bali Wayan Koster, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal, dan Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena. Ditengah gempa bumi Flores, ketiganya datang saling menguatkan dan membantu masyarakat dalam pemulihan pasca musibah ini.
"Hal sebagai bukti bahwa kesepakatan untuk melebur sekat birokrasi dan membangun area Sunda Kecil sebagai 'Segitiga Pertumbuhan Baru' (Golden Triangle) di wilayah Indonesia Timur, menjadi kenyataan.
Konsep nan telah diresmikan melalu penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) regional lintas sektor awal tahun 2026," ujar Gubernur Bali Wayan Koster.
Kerangka utama pembangunan wilayah berbasis integrasi ini difokuskan pada pemanfaatan potensi wilayah nan saling melengkapi (komplementer), nan dijabarkan ke dalam beberapa sektor prioritas. Pertama, Pariwisata Integratif (Superhub Pariwisata). Kawasan Bali-Nusra diposisikan sebagai superhub pariwisata dan ekonomi imajinatif bertaraf internasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Konsep ini tidak lagi menempatkan NTB dan NTT sebagai pesaing Bali, melainkan sebagai satu paket destinasi. Wisatawan nan datang ke Bali diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi unggulan tetangga, seperti Sirkuit Mandalika di NTB alias Labuan Bajo di NTT.
Kedua, Konektivitas dan Transportasi Antarwilayah. Untuk mendukung integrasi pariwisata dan rantai pasok ekonomi, ketiga gubernur berfokus pada penguatan prasarana transportasi udara, darat, dan laut. Konektivitas nan lancar memastikan mobilitas visitor dan pengedaran logistik antar-pulau dapat melangkah lebih sigap dan efisien.
Ketiga, Aglomerasi Ekonomi dan Rantai Pasok. Konsep ini membangun satu kesatuan ekonomi, tiap wilayah saling menyokong kebutuhan komoditas pangan dan tenaga kerja. Sebagai contoh, hasil pertanian, produk peternakan, dan pasokan logistik dari wilayah NTT dan NTB dapat disalurkan secara terarah untuk mendukung industri perhotelan dan pariwisata masif nan ada di Bali serta Labuan Bajo.
Keempat, Transisi Energi Terbarukan. Ketiga provinsi mempunyai komitmen berbareng untuk mengembangkan potensi daya bersih lokal. Kerja sama ini memfasilitasi transfer teknologi dan pembangunan prasarana hijau ramah lingkungan demi menjaga ekosistem alam berkepanjangan di sepanjang koridor Bali, NTB, dan NTT.
Kelima, Penataan Ruang Berbasis Kelestarian Budaya dan Lingkungan. Pembangunan area Golden Triangle ini dikawal ketat oleh izin tata ruang nan sinkron antarwilayah. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi tidak merusak kearifan lokal, adat, dan daya dukung lingkungan masing-masing wilayah nan menjadi daya tarik utama area Sunda Kecil. (OL/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·