Soal Gonjang-Ganjing Dunia, Mochtar Riady Beri Solusi Ini ke RI

1 hari yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Konglomerat Lippo Group, Mochtar Riady, mengingatkan Indonesia untuk belajar dari dinamika ekonomi dan politik nan terjadi di Amerika Serikat (AS). Menurutnya, kesenjangan ekonomi nan semakin lebar di negara dengan ekonomi terbesar di bumi tersebut telah memicu polarisasi politik nan pada akhirnya berakibat terhadap stabilitas ekonomi global.

"AS terdapat dua partai politik nan saling memusuhi dan itu membawa satu akibat nan sangat negatif bagi ekonomi bumi dan ketenteramannya bumi ini. Ini adalah berupa satu masalah bagi seluruh bumi nan kita hadapi," kata Mochtar Riyadi di Wisma Danantara Jakarta, Senin (29/6/2026).

Mochtar bercerita, ketika dirinya menyelesaikan kuliah pada tahun 1950-an, Ia pernah membaca sebuah tulisan nan mengulas teori The Wealth of Nations karya Adam Smith. Saat itu, Ia menemukan pandangan bahwa pertumbuhan ekonomi nan tidak diimbangi pemerataan berpotensi menciptakan lembah antara golongan kaya dan miskin.

"Itu bakal membawa satu akibat nan sangat negatif, ialah kepincangan antara kaya dan miskin. Dan pada saat ini, memang rupanya itu terjadi di Amerika Serikat," sebutnya.

Selain menyoroti ketimpangan ekonomi, Mochtar juga mengingatkan ancaman lain nan berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Ia menilai bentrok antara Amerika Serikat dan Iran telah memberikan tekanan terhadap perekonomian dunia melalui lonjakan inflasi.

"Kita juga dihadapi dengan perang Amerika dengan Iran nan membawa inflasi nan begitu dahsyat bagi seluruh dunia. Dan tentu bangsa Indonesia tidak bisa terlepas daripada masalah nan susah ini. Kesulitan-kesulitan nan demikian ini dihadapi oleh semua bangsa, khususnya bangsa Indonesia. Ini perlu kudu menjadi satu perhatian semua pihak," ungkapnya.

Menurut Mochtar, beragam tantangan dunia tersebut kudu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan di Indonesia. Sebab, akibat perlambatan ekonomi, tekanan inflasi, hingga ketidakpastian geopolitik bakal turut dirasakan oleh negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, Ia memandang Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik melalui pembangunan sektor riil nan mempunyai pengaruh berganda besar terhadap perekonomian nasional. Salah satunya adalah sektor perumahan.

"Dalam perihal ini saya merasa bahwa pembangunan ekonomi nan terjadi di Amerika dan China itu sangat tergantung dalam pembangunan perumahan," ucapnya.

Mochtar mengatakan, pembangunan perumahan bukan hanya menyediakan tempat tinggal bagi masyarakat, tetapi juga bisa menggerakkan sekitar 174 sektor industri pendukung. Karena itu, sektor ini dinilai layak menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

"Oleh lantaran pembangunan perumahan ini adalah menyangkut 174 macam industri. Pembangunan perumahan bukan single industri, tapi adalah menyangkut alias membangkitkan 174 macam industri nan lainnya ini. Maka pembangunan perumahan ini seyogianya kudu menjadi suatu motor penggerak ekonomi bangsa Indonesia," jelasnya.

Mochtar menambahkan, kebijakan tersebut bukan semata-mata bermaksud memenuhi kebutuhan rumah masyarakat, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membantu mengurangi kemiskinan.

"Semoga suatu pemikiran nan demikian ini tidak hanya terjadi pada Lippo Group, tapi bisa diikuti, ditularkan ke semua konglomerat. Di Indonesia saya kira tidak lebih, tidak kurang daripada 100 pengusaha besar. Kalau setiap pengusaha besar bisa ikut sumbang kepada pemerintah, maka itu berupa suatu faedah nan luar biasa bagi bangsa kita. Ini adalah angan saya," tutupnya.

(rob/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya