ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Pertandingan Spanyol versus Belgia pada babak perempat final Piala Dunia 2026 bakal menjadi duel strategi Luis de la Fuente kontra Rudi Garcia.
Pertandingan ini bakal berjalan di Stadion Los Angeles, Inglewood, Amerika Serikat, Jumat (10/7) alias Sabtu (11/7) awal hari WIB. Bisakah Belgia memulangkan Spanyol?
Sama sekali tidak mudah. Spanyol dalam didikan De La Fuente nirkalah dalam 35 laga. Meski skuad La Roja tidak bertabur bintang seperti 2010, permainan Rodri dan kawan-kawan matang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam lima pertandingan Piala Dunia 2026, gawang Spanyol belum kebobolan. Dari Uruguay, Austria, hingga Portugal tidak bisa menembus sistem pertahanan racikan De La Fuente.
Karier laki-laki 65 tahun ini sebelum menjadi pembimbing Spanyol memang menjanjikan. Ia membawa Spanyol U-19 dan U-21 juara Piala Eropa U-19 dan U-21, lantas meraih lencana emas Olimpiade 2020.
Ia juga mengantarkan Spanyol juara Nation League 2022/2023 lantas juara Piala Eropa 2024. Gelarnya sudah lengkap. Hanya tinggal Piala Dunia nan belum dia capai.
Piala Dunia 2026 adalah arena pertamanya. Spanyol datang dengan wajah baru, tetapi akar ball possession sama sekali tidak hilang. Permainannya juga tidak terlalu tiki-taka ala Spanyol nan lawas.
Bisa dibilang De La Fuente adalah pembimbing ideologis nan memegang teguh sistem permainan. Dan, sejauh ini, ideologi permainannya membikin Spanyol belum terkalahkan.
Adapun Garcia merupakan pembimbing nan pragmatis. Media-media Belgia menyebut Garcia sebagai pembimbing nan tidak ragu mengambil keputusan tak populer, asal bisa meraih kemenangan.
"[Rudi Garcia] Seseorang tanpa aliran baku, tanpa sistem permainan nan sakral, dan tanpa preferensi nan kaku terhadap jenis pemain tertentu," tulis Nieuwsblad soal style melatih Garcia.
"Itulah kenapa dia tidak dianggap sebagai jenius strategi oleh sebagian orang dan digambarkan oleh orang lain sebagai pembimbing bergaya lama." Begitu kajian media menyebutnya.

Sebagai contoh, Garcia tidak ragu mencadangkan alias mengganti Kevin de Bruyne, Jeremy Doku, Hans Vanaken, apalagi Maxim de Cuyper, demi terciptanya permainan lebih stabil.
Menurut Garcia, nan utama adalah intensitas, agresivitas, dan ketangguhan, dibanding penguasaan bola. Unggul statistik bukan perihal nan membuatnya bangga. Menang, itu saja.
Karenanya duel Spanyol versus Belgia bakal menjadi medan pertarungan bagi pembimbing nan idealis dengan sistem permainan, melawan tim pragmatis nan krusial bisa meraih kemenangan.
(abs/nva)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·