Sri Sultan Hamengku Buwono X Luncurkan Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan

9 jam yang lalu 5
Sri Sultan Hamengku Buwono X Luncurkan Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan Ilustrasi(MI/Agus Utantoro)

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, secara resmi meluncurkan Buku Panduan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) untuk jenjang pendidikan tinggi. Peluncuran ini bermaksud memastikan kemajuan pengetahuan pengetahuan dan teknologi tetap selaras dengan keselamatan bumi, keadilan, serta kesejahteraan manusia.

Acara peluncuran berjalan di Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Kamis (20/8/2026), nan dihadiri oleh perwakilan beragam perguruan tinggi di DIY. Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa PKJ bukanlah penghambat kemajuan, melainkan kompas moral bagi perkembangan zaman.

"Pendidikan Khas Kejogjaan tidak bertentangan dengan kemajuan. PKJ justru memastikan agar kemajuan pengetahuan dan teknologi tetap berpihak pada keselamatan bumi, keadilan, dan kesejahteraan manusia," ujar Sri Sultan.

Kontribusi Yogyakarta untuk Nasional

Sri Sultan menjelaskan bahwa kehadiran PKJ di pendidikan tinggi bukan corak eksklusivitas lokalitas. Sebaliknya, ini merupakan kontribusi Yogyakarta bagi kebijakan pendidikan tinggi nasional. PKJ menunjukkan gimana nilai lokal dapat menjadi sumber penemuan dan langkah pandang baru dalam mempertanyakan prinsip pengetahuan pengetahuan.

“Saya mau meletakkan pendapat ini bukan sebagai muatan lokal nan ditambahkan pada kurikulum nan sudah penuh, melainkan sebagai langkah pandang nan mengubah gimana pengetahuan itu sendiri dipertanyakan,” tuturnya.

Menurut Ngarsa Dalem, pengetahuan tidak boleh berakhir pada teks, ujian, alias ijazah. PKJ datang sebagai ikhtiar untuk memperpendek jarak antara ruang kuliah dengan realitas kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan diajak untuk "pulang" dan singgah pada nilai-nilai kemanusiaan sebelum diterapkan di bumi kerja.

Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono

Dalam implementasinya, PKJ berdasarkan pada filosofi Hamemayu Hayuning Bawono. Falsafah ini mengajarkan bahwa kelebihan pengetahuan kudu diukur dari kemampuannya merawat harmoni antara manusia dengan sesama, alam, dan Sang Pencipta.

Sri Sultan menilai penerapan PKJ kudu diwujudkan melalui Tridharma Perguruan Tinggi:

  • Pengajaran: Penerapan nilai Kejogjaan sesuai karakter disiplin pengetahuan masing-masing.
  • Penelitian: Menjadikan Yogyakarta sebagai laboratorium hidup (kampung, pasar, cagar budaya) untuk riset persoalan aktual.
  • Pengabdian: Membangun hubungan timbal kembali nan berkepanjangan antara kampus dan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya ekosistem nan mempertemukan tiga ruang: Kraton sebagai horizon nilai, kampus sebagai daya kritis, dan kampung sebagai ruang pembuktian ilmu.

Dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., memberikan apresiasi tinggi melalui sambutan daring. Ia menyebut Yogyakarta mempunyai kedudukan spesial sebagai rahim lahirnya para ahli filsafat bangsa.

“Hadirnya Buku Panduan PKJ merupakan langkah baik untuk mempertemukan pendidikan, pengetahuan pengetahuan, dan kebudayaan. Nilai budaya tidak cukup dipahami sebagai pengetahuan, tapi perlu diterjemahkan menjadi pengalaman belajar nan membentuk langkah berpikir mahasiswa,” kata Brian.

Mengenal Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ)
PKJ adalah pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Kejogjaan nan inklusif dan kolaboratif. Materi PKJ mengintegrasikan nilai luhur dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Taman Siswa, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah, nan diperkaya dengan nilai pendidikan modern.

Menutup sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa ukuran tertinggi pendidikan adalah manfaatnya bagi kehidupan. Ia berambisi dari Yogyakarta lahir model pendidikan tinggi nan bisa menyatukan akar budaya dengan kemajuan zaman, logika dengan rasa, serta kebijakan dengan laku nyata.

Selengkapnya