Jakarta, CNBC Indonesia - Operator Starbucks Korea, SCK Company, membukukan kerugian operasional pada kuartal II-2026. Pendapat tertekan setelah penjualan turun drastis menyusul kontroversi kampanye pemasaran nan dianggap menyinggung sejarah kelam Korea Selatan (Korsel).
SCK Company mencatat kerugian operasional sebesar 18,4 miliar won (sekitar Rp220 miliar) pada kuartal II-2026. Kondisi ini berbalik tajam dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya ketika perusahaan tetap membukukan untung operasional sebesar 40,3 miliar won.
Mengutip Reuters, Kamis (13/8/2026), kerugian tersebut juga memburuk dibandingkan kuartal I-2026. Kala itu, SCK Company mencatat untung operasional sebesar 29,3 miliar won.
Kontroversi bermulai pada Mei ketika Starbucks Korea meluncurkan kampanye tumbler berjudul "Tank Day" untuk memperingati 18 Mei. Kampanye tersebut mendapat kecaman lantaran dianggap mengingatkan publik pada pemberontakan pro-demokrasi Gwangju 1980, nan melibatkan tindakan keras militer terhadap demonstran.
Starbucks Korea kemudian menghentikan kampanye tersebut dan menyampaikan permintaan maaf. Shinsegae Group, induk perusahaan Starbucks Korea, juga memberhentikan kepala Starbucks Korea.
Setelah itu, grup tersebut mengatakan penjualan Starbucks Korea telah turun "sangat signifikan" dan menggelar training bagi tenaga kerja mengenai kesadaran sejarah serta sensitivitas sosial. Meski demikian, E-Mart, perusahaan induk SCK Company, tidak secara langsung menyebut kontroversi tersebut maupun seruan boikot sebagai penyebab penurunan keahlian kuartalan.
Dalam pengumuman keahlian pada Kamis, E-Mart hanya menyatakan bahwa SCK Company tidak menjalankan promosi musim panas seperti biasanya pada Juni. Kontroversi tersebut menjadi tantangan bagi Starbucks Korea di tengah persaingan ketat industri kopi dan perubahan perilaku konsumen di Korsel.
(sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·