Sulap Limbah Jerami Jadi Pupuk Organik HULU

2 jam yang lalu 4
Sulap Limbah Jerami Jadi Pupuk Organik HULU Ilustrasi(Dok ULM)

ASAP tebal sisa pembakaran jerami pasca-panen nan biasanya menyelimuti persawahan Desa Ida Manggala, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekarang mulai berganti dengan geliat aktivitas produktif. Ratusan petani nan berlindung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan, sekarang tengah merintis jalan menuju kemandirian pupuk organik melalui penemuan teknologi tepat guna nan ramah lingkungan. Selama bertahun-tahun, para petani di wilayah ini terjebak dalam perangkap ketergantungan pupuk kimia sintetis dengan pengeluaran operasional upaya tani nan membubung tinggi.

Di sisi lain, potensi melimpah dari sisa panen berupa biomassa jerami padi nan mencapai 525 ton per musim panen, terbuang sia-sia dan kebanyakan dimusnahkan dengan langkah dibakar secara terbuka (open burning). Praktik ini memicu degradasi hara tanah serta menyumbang polusi udara. 

Menjawab tantangan tersebut, tim pengajar kerjasama lintas perguruan tinggi dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Amuntai datang membawa solusi konkret melalui pendekatan ekonomi sirkular (waste to wealth). Program ini didanai sepenuhnya oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk Tahun Pendanaan 2026.

“Kami datang tidak sekadar membawa support fisik, melainkan melakukan transfer teknologi dekomposisi sigap agar petani mempunyai kapabilitas berdikari dalam mengelola sumber daya lokal mereka,” ujar Riza Adrianoor Saputra, akademisi dari Universitas Lambung Mangkurat selaku Ketua Tim Pengabdian. 

Dr. Untung Santoso, master pertanian organik dari ULM, mengawal training teknis produksi kompos sigap menggunakan mesin pencacah jerami (straw chopper) portabel berkapasitas 600 kg/jam. Inovasi mekanis ini memotong jerami hingga ukuran kurang dari 5 cm guna mempercepat pembusukan secara alami.

Hasilnya luar biasa; jerami nan biasanya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk hancur di lahan, sekarang dapat ditransformasi menjadi kompos matang nan stabil hanya dalam hitungan minggu. Sementara, Heldawati, master sosial ekonomi pertanian dari STIPER Amuntai, berfokus pada penguatan aspek manajemen kelembagaan dan introduksi prinsip ekonomi sirkular.

Petani dilatih untuk melakukan pencatatan manajemen biaya upaya tani demi menghitung efisiensi penghematan pengeluaran pupuk secara riil. Intervensi nan melangkah intensif ini terbukti mendongkrak tingkat keberdayaan mitra secara signifikan.

Berdasarkan pengukuran kuantitatif tim pelaksana, tingkat pemahaman petani mengenai ancaman pembakaran jerami dan teknik pengolahan hara melonjak drastis, dari rata-rata hanya 40% sebelum training (pre-test) menjadi 92% setelah pendampingan (post-test).

Secara ekonomi, penggunaan kompos jerami matang ini diproyeksikan bisa menggantikan sebagian kebutuhan pupuk kimia eksternal nan selama ini membebani kantong petani hingga Rp4,5 juta per hektar. Pemanfaatan teknologi ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam memitigasi emisi gas rumah kaca di sektor pertanian suboptimal Kalimantan Selatan.

Keberhasilan kerjasama nan juga melibatkan peran aktif lima mahasiswa Agroekoteknologi ULM ini merupakan bagian dari komitmen hilirisasi riset nasional. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dalam Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat pada Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). 

Sebagai langkah keberlanjutan, tim pengusul berbareng pengurus Gapoktan Harapan saat ini tengah merumuskan tata kelola Unit Usaha Kompos Desa. Diharapkan, Rumah Kompos permanen nan telah berdiri kokoh di Desa Ida Manggala tidak hanya berfaedah sebagai pusat produksi pupuk organik kolektif, tetapi juga tumbuh menjadi laboratorium lapangan (field laboratory) pembelajaran pertanian ramah lingkungan nan berkepanjangan di Kalimantan Selatan. (DY/E-4)

Selengkapnya