ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) terus mendorong proyek daya hijau tidak hanya untuk mendukung transisi energi, tetapi juga sebagai upaya menambah kesiapan daya baru dan terbarukan di dalam negeri.
Direktur Utama Pertamina NRE John Anis buka-bukaan mengenai strategi perusahaan mempercepat transisi daya melalui beragam penemuan teknologi terbarukan. Diantaranya menggarap panas bumi serta pengembangan sektor non-elektrifikasi.
"Geotermal itu potensi kita luar biasa banyak, kita punya 3 gigawatt, sekarang baru produksi 727 (mega watt/MW), kita menuju ke 1 gigawatt (GW). Mudah-mudahan bisa cepat. Nah, ini untuk membantu elektrifikasi tadi," ungkapnya dalam aktivitas Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta dikutip Selasa (30/6/2026).
Pertamina NRE juga tengah mengembangkan bioetanol dengan skema multi-feedstock untuk menekan ketergantungan pada impor bahan bakar minyak khususnya bensin. Salah satu proyek utamanya adalah pengolahan tetes tebu/molase menjadi bioetanol di Banyuwangi untuk menghasilkan bahan bakar nan lebih ramah lingkungan.
"Kita bekerja sama tentu saja nan molasses kita jalankan, kita baru kembali dari Glenmore di Banyuwangi, kita bekerja sama dengan SGN nan bakal menyuplai molasses-nya berproduksi 33.000 kiloliter per tahun sebagai nan pertama berbasis molasses dan ini kita bakal tambah lagi sekitar lima minimal," kata John.
Selain tebu, PNRE melakukan reaktivasi pabrik singkong di Lampung serta menjajaki pengembangan biomatanol dari limbah kelapa sawit alias palm oil mill effluent (POME). Penggunaan teknologi baru ini diklaim bisa memangkas tahapan produksi sehingga nilai jual produk menjadi lebih kompetitif bagi pasar.
"Untuk membikin biomatanol itu nan tradisional itu empat tahap, reforming empat tahap, kita pangkas jadi dua tahap sehingga harganya didiskon 50%. Nah, ini bakal mendekati nilai grey methanol. Nah, ini nan bakal kita cobakan kelak dengan kelapa sawit untuk membikin FAME," tuturnya.
Perusahaan juga merambah sektor biomassa dengan menguji coba penggunaan wood pellet sebagai pengganti daya pengganti LPG bagi sektor upaya kecil. Seluruh inisiatif daya hijau tersebut diproyeksikan dapat memperkuat kedaulatan daya Indonesia sekaligus mendukung pencapaian sasaran emisi nol bersih.
"Tadi kita bilang pengganti LPG. Jadi kita coba wood pellet-lah jika untuk bikin nasi goreng di mana, di tukang tek-tek gitu kan pakai wood pellet mungkin lebih murah dan lebih mudah gitu lantaran jika nggak ada api kayaknya nggak lezat gitu ya," tandasnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·