Taktik China Menantang Dominasi Amerika

52 menit yang lalu 2

loading...

Laksma TNI Salim, Kapusjianmar Seskoal dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga. Foto: Istimewa

Laksma TNI Salim
Kapusjianmar Seskoal dan Kandidat Doktor Universitas Airlangga

PASCA-berakhirnya bentrok bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran nan telah menguras daya serta merombak lanskap geopolitik di Timur Tengah, bumi sekarang menyaksikan sebuah pergeseran kekuatan dunia nan melangkah dalam keheningan namun berakibat sangat masif. Di saat Washington tetap berfokus pada supremasi militer tradisional dan pemulihan stabilitas pasca-perang, Beijing bergerak dengan strategi nan jauh lebih subtil namun mematikan. Tiongkok menantang hegemoni Amerika bukan melalui moncong senjata, melainkan melalui urat nadi ekonomi global.

Senjata utama dari strategi ini adalah proyek raksasa Belt and Road Initiative (BRI), sebuah mahakarya geo-ekonomi nan sekarang beralih bentuk menjadi instrumen kedaulatan baru alias Quasi-Sovereignty (kedaulatan semu).

Melalui megaproyek pembangunan pelabuhan, jalur kereta api, dan prasarana digital di beragam benua, Tiongkok pada hakikatnya tidak sedang menjajah wilayah sebuah negara secara fisik, melainkan secara sistematis menancapkan akar kendali atas ketergantungan ekonomi mereka.

Dalam realitas baru ini, kedaulatan tidak lagi dibatasi oleh garis teritori alias pemisah peta geografis nan kaku. Kedaulatan abad ke-21 tertanam kuat pada kendali atas koridor logistik, jaringan produksi, dan aliran finansial. Sebuah negara nan menguasai prasarana ini mempunyai kewenangan untuk mendikte patokan main di negara lain tanpa perlu mengibarkan benderanya di ibu kota mereka.

Transformasi ini mempercepat terjadinya pergeseran kekuatan dunia nan mendasar, di mana rantai pasok (supply chain) telah direkayasa menjadi senjata politik nan luar biasa mematikan. Ketika Tiongkok mengendalikan arus peralatan dari Asia, Afrika, hingga Eropa, mereka mempunyai kekuatan absolut untuk mencekik alias menghidupkan perekonomian sebuah area hanya dengan memutar keran logistik.

Kekuatan armada militer Amerika mungkin bisa memenangkan pertempuran bentuk di lautan, tetapi kekuatan rantai pasok Tiongkok dirancang perlahan untuk mengikis kekuasaan Barat dan memenangkan masa depan.

Namun, dari abu peperangan nan menyelimuti Timur Tengah dan di tengah bayang-bayang perebutan hegemoni logistik antara dua raksasa bumi ini, ada sebuah kebenaran esensial nan kudu diresapi oleh seluruh umat manusia.

Pasca-kehancuran nan telah disaksikan dunia, kita pada akhirnya belajar bahwa kekuatan sejati sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa banyak peluru nan ditembakkan untuk menghancurkan musuh, alias seberapa cerdas sebuah negara merantai kemerdekaan bangsa lain melalui jerat hutang logistik.

Kekuatan sejati kemanusiaan adalah saat kita bisa berdiri setara di atas puing-puing penderitaan masa lalu, saling menyembuhkan, dan menyadari bahwa kedaulatan tertinggi di bumi ini bukanlah milik satu negara adikuasa mana pun, melainkan milik perdamaian kekal nan dibangun berbareng di atas keadilan, kolaborasi, dan rasa cinta kasih nan melampaui segala pemisah perbatasan.

Dalam arsitektur geopolitik modern, ketegangan antara Beijing dan Washington tidak lagi sekadar retorika, melainkan telah menjelma menjadi adu strategi militer tingkat tinggi. Doktrin resmi Tiongkok secara tegas menyebut pendekatannya sebagai "active defense" sebuah postur nan secara strategis murni berkarakter defensif, namun sangat siap mengeksekusi operasi ofensif nan mematikan demi mengamankan tujuan-tujuan strategisnya.

Lapis pertama dari strategi pertahanan aktif ini adalah strategi Anti-Access/Area Denial (A2/AD) nan dirancang secara unik agar Amerika Serikat tidak dapat masuk dengan bebas ke wilayah perairan vital. Tiongkok menciptakan tembok pertahanan berlapis melalui kombinasi garang dari rudal balistik dan jelajah jarak jauh, rudal anti-kapal, armada kapal selam senyap, pesawat tempur dan bomber, hingga sistem pertahanan udara nan mutakhir.

Ini tetap diperkuat dengan kekuasaan operasi electronic warfare, peretasan cyber, serta pemanfaatan satelit dan kapabilitas anti-satelit. Tujuannya sangat terukur: bukan kudu menghancurkan seluruh armada laut AS secara total, melainkan untuk menciptakan area maut nan membikin kapal induk, pangkalan militer, armada udara, dan jaringan komando AS merasa sama sekali tidak kondusif untuk beraksi di laman depan Tiongkok.

Lebih dari sekadar tumbukan fisik, Tiongkok sangat mengkalkulasi bahwa kelebihan sejati militer AS bertumpu pada networked warfare sebuah ekosistem terintegrasi dari satelit, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR), komunikasi, GPS, dan sistem komando (command-and-control).

Selengkapnya