Karya Seni Berbahan Limbah Tekstil Hadir di Pameran Purana 17: Renjana Perca

47 menit yang lalu 2
 Renjana Perca Ilustrasi(MI/RIFALDI PUTRA)

SEBUAH permadani berukuran cukup besar menggantung di salah satu sisi Main Atrium Grand Indonesia, Jakarta. Dari kejauhan, permadani nan menampilkan objek pulau dengan birunya lautan itu terpajang elok dan mencuri perhatian. Menambah kesan tersendiri, permadani itu rupanya dibuat dari limbah tekstil, jadi sebuah gambaran gimana sang seniman memberikan kehidupan kedua bagi material nan terlupakan 

Karya seni itu milik Hana Surya, seorang seniman nan telah lama berupaya mengubah limbah tekstil menjadi peralatan baru nan bisa dimanfaatkan seperti seni dinding, permadani, maupun aksesoris lainnya. Permadani itu menjadi salah satu karya seni daur ulang nan terpanjang dalam gelaran berjudul ‘Purana 17: Renjana Perca’, berjalan dari 14 - 23 Agustus 2026,

”Gelaran ini merupakan seremoni dari 17 tahun perjalanan Purana Perca, ini lebih daripada sebuah selebrasi perjalanan kami, melainkan sebagai sebuah kebebasan untuk terus berkarya tanpa batas. Seluruh karya di pameran ini 100 persen dibuat dari bahan-bahan daur ulang, seperti kardus bekas, kayu bekas, dan juga sisa-sisa kain dari tim produksi kami,” ucap Founder Purana Nonita Respati, dalam konvensi pers di Jakarta, Jumat (14/8).

Bukan hanya karya seni milik Hana Surya, belasan seniman lainnya juga turut terlibat dalam gelaran ini, termasuk diantaranya seniman Sutjipto Adi, Francisca Puspitasari, Arief Susanto, Ruth Marbun, hingga Hendra Harsono. Maestro lukis Sutjipto Adi datang membawa sebuah karya seni berbahan denim dengan ukuran cukup besar.

Menggantung di tengah ruang eksibisi, lewat karya seni itu, Sutjipto Adi dengan jeli memanfaatkan limbah denim nan disambung membentuk persegi berukuran 6x6 meter untuk kemudian dilukis dengan pola-pola unik dengan cat berwarna-warni dan membuatnya tampak bagus saat dipandang.

”Beliau membikin sebuah karya besar ialah di tengah-tengah kita, ini karya 6x6 meter dan ini dari perca denim nan disambung-sambung dan kemudian Pak Sujipto melukis di atas perca denim tersebut,” ujar Nonita.

Ubah Limbah Botol Plastik Jadi Kain

Salah satu perihal spesial dalam aktivitas ‘Purana 17: Renjana Perca’, Nonita memperkenalkan penemuan nan telah dilakukan oleh Purana, sebuah penemuan mengubah limbah botol plastik menjadi kain, salah satu nan ditampilkan adalah sarung bantal. Jadi gambaran gimana limbah bisa diolah sedemikian rupa untuk dimanfaatkan kembali.

”Kami menghadirkan penemuan 'Waste to Fabric'. Di mana kami mengolah limbah botol plastik menjadi fiber kemudian dipintal menjadi benang nan selanjutnya ditenun menjadi kain,”

Lebih jauh Nonita menjelaskan bahwa proses transformasi limbah botol plastik menjadi kain memerlukan sejumlah proses, pertama botol plastik dicacah menjadi bagian-bagian mini untuk kemudian diproses menggunakan mesin untuk mengubahnya menjadi fiber alias kapas.

”Mesinnya itu kami menggunakan mesin kreator gulali, jadi cacahan botol pelastik nan pastinya sudah dibersihkan kami masukan ke dalam mesin untuk kemudian mesin itu bakal mengubah plastik tadi menjadi fiber alias kapas. Untuk kemudian fiber dipintal menjadi benang,” terang Nonita.

Memiliki tahapan nan cukup sederhana untuk mengubah limbah botol plastik menjadi kain, dia pun berambisi penemuan ini bisa jadi rujukan untuk masyarakat luas tanpa kudu merogoh kocek nan dalam. Dengan tentunya diharapkan penemuan ini bisa memberdayakan lebih banyak masyarakat di luar sana.

“Cita-cita saya adalah agar ini bisa diproduksi secara massal dan saya berambisi ini bisa dikelola oleh teman-teman di desa-desa alias kelurahan sehingga mereka punya motivasi untuk mengelola sampah,” tukasnya. (H-2)

Selengkapnya