Jakarta, CNBC Indonesia - Jebolnya salah satu waduk di Nepal akibat runtuhnya gletser mengingatkan kembali pada tragedi Situ Gintung di Ciputat, Tangerang Selatan. Pada 27 Maret 2009, tanggul situ tersebut runtuh dan sekitar sejuta meter kubik air menerjang permukiman warga. Total, 100 orang tewas.
Bencana itu bermulai sehari sebelumnya. Kamis, 26 Maret 2009, hujan deras mengguyur wilayah Ciputat. Debit air Situ Gintung meningkat hingga air mulai meluber di salah satu bagian tanggul.
Namun, saat itu belum terjadi kerusakan besar. Hujan kemudian mereda pada Jumat awal hari dan situasi sempat terlihat aman.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 04.30 WIB, tanggul Situ Gintung akhirnya jebol. Air bah menerjang Perumahan Cirendeu Permai dan menyapu sebagian Kampung Poncol. Beberapa gedung di Universitas Muhammadiyah Jakarta juga ikut terdampak.
Sekitar 100 orang tewas dan ratusan rumah rusak akibat musibah nan disebut penduduk sebagai 'tsunami' mini tersebut. Sebutan itu terjadi lantaran air datang begitu kencang dan merusak.
Setelah musibah usai, awalnya banyak pihak menduga hujan ekstrem sebagai penyebab utama. Sebab, curah hujan ketika itu mencapai sekitar 113,2 milimeter per hari.
Namun, belakangan muncul temuan nan menunjukkan persoalannya tidak sesederhana hujan deras. Dalam pemberitaan detik.com (3 April 2009), Kepala BPPT Sutopo Purwonugroho mengungkap, BPPT pernah melakukan penelitian terhadap Situ Gintung pada 5 Desember 2008.
Tim mengungkap adanya indikasi erosi alias piping pada struktur pintu pelimpas banjir (spillway) Situ Gintung.
"Dengan demikian curah hujan bukan aspek utama," kata Sutopo, seperti diberitakan detik.com.
Peneliti BPPT, Budi Harsoyo, dalam riset berjudul "Jebolnya Tanggul Situ Gintung (27 Maret 2009) Bukan Karena Faktor Curah Hujan Ekstrim", mengungkap telah ditemukan retakan-retakan pada badan tanggul sebelum kejadian. Dia menyoroti minimnya monitoring dan perawatan sebagai salah satu aspek nan membikin kerusakan tidak tertangani.
Penelitian tersebut juga mengungkap usia tanggul nan sudah tua sebagai salah satu aspek utama. Situ Gintung merupakan sistem irigasi warisan Belanda nan kondisinya sudah berubah mengalami perubahan beberapa saat sebelum jebol, seperti retakan tanggul dan berkurangnya lebar saluran pembuangan.
Soal saluran pembuangan, kondisi ini membikin keahlian pembuangan air menurun sehingga tekanan hidrostatik terhadap tanggul semakin besar. Terlebih, area sekitar Situ Gintung sudah mengalami perubahan menjadi permukiman padat.
Dengan demikian, hujan deras pada 26 Maret 2009 bukan satu-satunya persoalan. Tanggul nan sudah tua, saluran pembuangan nan menyempit, indikasi erosi, serta retakan dan minimnya perawatan membikin gedung tersebut semakin rentan.
Ketika debit air meningkat, tanggul akhirnya tak bisa lagi menahan tekanan. Pada subuh 27 Maret 2009, Situ Gintung pun jebol. Air bah menyapu permukiman penduduk dan menewaskan sekitar 100 orang.
(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]

2 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·