Tangis Berubah Jadi Amarah, Keluarga Korban Gempa Blokir Alat Berat

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Keluarga korban gempa di Venezuela memblokir perangkat berat demi mencari kerabat nan hilang. Korban tewas mencapai 1.450 orang, pencarian tetap berlangsung.

Orang-orang berkumpul saat petugas penyelamat membantu upaya pengamanan setelah gempa bumi melanda negara itu, di La Guaira, Venezuela, 27 Juni 2026. (REUTERS/Maxwell Briceno)

Kesedihan dan kemarahan menyelimuti negara bagian pesisir La Guaira, Venezuela, pada Minggu (28/6/2026), ketika family korban gempa memblokir perangkat berat penyelamat dan menuntut akses ke letak bencana. Mereka berjaga di sekitar reruntuhan gedung dengan angan personil family nan lenyap tetap dapat ditemukan dalam keadaan hidup. (REUTERS/Maxwell Briceno)

Para sukarelawan dan penduduk mencari korban selamat di reruntuhan gedung nan runtuh di Caraballeda, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada 28 Juni 2026, setelah gempa bumi.

Dua gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6). La Guaira, nan berada di utara Caracas, menjadi salah satu wilayah nan mengalami kerusakan paling parah setelah ratusan gedung runtuh akibat guncangan. Hingga kini, jumlah korban tewas dilaporkan telah mencapai sedikitnya 1.450 orang. (MIGUEL MEDINA/Pool via REUTERS)

Orang-orang menghadiri misa di gereja Santuario Nuestra Senora de los Dolores selama hari angan nasional untuk para korban dua gempa bumi nan diselenggarakan oleh Konferensi Episkopal di Valencia, Venezuela, 28 Juni 2026.

Di antara family nan tetap menunggu berita kerabatnya adalah Hector Villegas. Ia mengatakan mantan istrinya, ibu mertuanya, dan cucu tertuanya berada di dalam sebuah gedung saat gempa terjadi. Sejak hari itu, mereka belum sukses menemukan jenazah ketiga personil keluarganya. Meski demikian, dia tetap memperkuat di letak sembari menunggu proses pencarian nan tetap berlangsung. (REUTERS/Juan Carlos Hernandez)

Kesedihan dan kemarahan menyelimuti negara bagian pesisir La Guaira, Venezuela, pada Minggu (28/6/2026), ketika family korban gempa memblokir perangkat berat penyelamat dan menuntut akses ke letak bencana. Mereka berjaga di sekitar reruntuhan bangunan

Kekecewaan penduduk memuncak ketika mereka menghentikan sebuah truk nan membawa perangkat berat. Mereka mendesak agar peralatan tersebut segera dikerahkan ke area tempat mereka mencari korban nan diduga tetap tertimbun. Wilker Molaya, seorang ayah nan mencari putrinya nan hilang, mengaku telah sukses membebaskan sebagian tubuh putrinya dari reruntuhan. Dengan penuh emosi, dia menolak meninggalkan letak dan bersikeras bakal terus mencari anaknya. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Seorang personil tim penyelamat AS membantu seseorang nan terjebak di bawah reruntuhan gedung setelah gempa bumi melanda negara itu, di La Guaira, Venezuela, 28 Juni 2026.

Upaya pencarian dan pengamanan tetap menghadapi beragam kendala. Gempa susulan nan terus terjadi serta minimnya kesiapan perangkat berat di sejumlah titik memperlambat operasi di kawasan-kawasan nan paling terdampak. Di tengah keterbatasan tersebut, banyak penduduk memilih bergotong royong membersihkan puing-puing secara berdikari sembari berambisi tetap ada korban nan dapat diselamatkan. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)

Anggota tim penyelamat membawa seseorang ke ambulans setelah gempa bumi melanda negara itu, di La Guaira, Venezuela, 28 Juni 2026.

Jumlah korban tewas akibat gempa kembar nan mengguncang wilayah tersebut pada Rabu (24/6/2026) telah melampaui 1.400 jiwa hingga Sabtu (27/6/2026). Sementara itu, lebih dari 1.600 personel penyelamat dari beragam negara telah tiba di La Guaira, wilayah nan mengalami akibat paling parah, untuk memperkuat operasi pencarian, evakuasi, dan pemulihan pascabencana. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Selengkapnya