UPAYA penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBBS) mulai menunjukkan hasil signifikan. Penggunaan integrasi teknologi pemantauan udara dan intervensi bentuk sukses menekan penyebaran api di wilayah(Dok. Istimewa)
UPAYA penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBBS) mulai menunjukkan hasil signifikan. Penggunaan integrasi teknologi pemantauan udara dan intervensi bentuk sukses menekan penyebaran api di wilayah konservasi tersebut.
Tim campuran penanganan karhutla melaporkan bahwa hingga Jumat (14/8) pukul 12.30 WIB, titik api di sejumlah area strategis Gunung Bromo sudah tidak lagi terpantau. Keberhasilan ini dikonfirmasi melalui serangkaian prosedur pengesahan visual menggunakan perangkat teknologi terkini.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyatakan bahwa status terkini mengenai hilangnya titik api didasarkan pada info jeli dari lapangan. Tim campuran mengandalkan dua metode utama untuk memastikan kondisi area nan susah dijangkau secara geografis.
“Hasil pemantauan udara menggunakan helikopter dan drone, serta penyisiran darat, menunjukkan tidak ditemukan adanya titik api,” ujar Satriyo di Surabaya, Jumat (14/8). Penggunaan drone memberikan kelebihan dalam memetakan area terdampak secara presisi, sementara helikopter memberikan pandangan luas (bird's eye view) untuk mendeteksi anomali suhu alias kepulan asap tipis.
Operasi Water Bombing di Pakis Bincil
Meski secara umum titik api sudah mereda, tim sempat mendeteksi adanya titik asap di area Pakis Bincil 1 dan 2, Kabupaten Pasuruan. Menanggapi temuan tersebut, otoritas mengenai segera meluncurkan operasi udara secara masif.
Tiga unit helikopter dikerahkan untuk melakukan prosedur water bombing. Teknologi pengeboman air dari udara ini dinilai paling efektif untuk memutus rantai api di medan perbukitan Bromo nan terjal. Satriyo mengonfirmasi bahwa titik asap di Pakis Bincil telah sukses dipadamkan sepenuhnya melalui operasi tersebut.
Data Dampak Karhutla Gunung Bromo (Per 14 Agustus):
- Luas Area Terdampak: 1.120,3 Hektare (Data tetap berkembang).
- Vegetasi Terdampak: Cemara Gunung, Mentigen, Akasia, dan Semak Belukar.
- Lokasi Mitigasi Manual: Bukit Cinta (Pembasahan bara api).
Mitigasi Manual dan Pembersihan Bara Api
Selain intervensi teknologi tinggi, tim campuran juga melakukan penyisiran darat di area Bukit Cinta. Di letak ini, petugas menemukan potensi titik api tersembunyi di bawah permukaan tanah alias serasah.
Sebagai langkah mitigasi, dilakukan pembasahan secara manual. Langkah ini krusial untuk memastikan tidak ada bara api nan tersisa (smoldering) nan berisiko memicu kebakaran kembali jika tertiup angin kencang. "Pembasahan dilakukan secara manual untuk memastikan tidak ada bara api nan tersisa dan berpotensi menyebabkan kebakaran kembali," tambah Satriyo.
Dampak Ekologis dan Pendataan Lanjutan
Berdasarkan pendataan terbaru, total luas area nan terdampak kebakaran telah mencapai 1.120,3 hektare. Kerusakan vegetasi mencakup jenis endemik dan tanaman keras seperti Cemara Gunung, Mentigen, serta Akasia nan menjadi penyangga ekosistem Bromo.
Pemerintah wilayah dan BPBD Jatim menegaskan bahwa nomor luas lahan terdampak tetap berkarakter dinamis. Proses pendataan ulang terus dilakukan seiring dengan upaya stabilisasi area agar aktivitas ekosistem dan pariwisata dapat kembali pulih dengan standar keamanan nan terjamin. (FL/I-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·