Terungkap! Ini Alasan Prabowo Bangun Tambak Udang Raksasa di Waingapu

18 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan pembangunan tambak udang modern berskala besar di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagai salah satu strategi menjaga daya saing ekspor perikanan Indonesia. Proyek nan menjadi penugasan Presiden Prabowo Subianto itu bukan sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan pasokan udang nasional tetap stabil untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pembangunan tambak modern tersebut menjadi bagian dari upaya memperbaiki kelemahan mendasar sektor budidaya udang nasional.

"Sebetulnya lantaran kita sudah tahu persis di mana letak kelemahan kita nan kudu kita improve. Nah itulah salah satunya kemudian kita ngebangun beberapa pekerjaan besar nan ditugaskan oleh Bapak Presiden (Prabowo Subianto), lantaran Bapak Presiden ini inginnya adalah sesuatu nan sekaligus dalam skala-skala nan besar," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).

"Seperti pembangunan tambak udang besar di wilayah Waingapu di Indonesia Timur ya. Itu tujuannya untuk menjaga agar kita tetap stabil dalam suplai, suplai kepada pasar global," sambungnya.

Menurut dia, Indonesia sebenarnya mempunyai potensi besar sebagai produsen udang dunia. Saat ini produksi udang nasional mencapai sekitar 400 ribu ton per tahun dengan luas tambak sekitar 247.800 hektare. Namun produktivitas tambak tetap tergolong rendah lantaran kebanyakan tetap dikelola secara tradisional.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP)Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP) Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memulai pembangunan Kawasan Tambak Udang Terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. (Dok. KKP)

"Karena udang itu kita produksinya kurang lebih sekitar 400.000 ton setahun. Nah itu kita punya lahan 247.800-an hektar. Produktivitas kita tuh tetap 0,6. Jadi tetap sangat tradisional. Cara treatment budidayanya tuh tetap tradisional," jelas dia.

Kondisi tersebut, lanjut Trenggono, menjadi penyebab produksi udang nasional belum stabil. Pemerintah pun mulai membangun model tambak modern nan nantinya bakal menjadi referensi untuk meningkatkan produktivitas tambak milik masyarakat.

"Dan ini nan kita improve, kita bikin dulu skala model nan bagus, nan modern, nan sesuai dengan standar budidaya nan benar. Lalu kemudian tahapan berikutnya tentu kita bakal koreksi dan kita pilih tambak-tambak masyarakat untuk kemudian kita siapkan satu model kita improve juga, agar dia produktivitasnya bisa lebih stabil," ujarnya.

Ia menilai, kestabilan produksi menjadi syarat krusial agar produk udang Indonesia bisa memenuhi kebutuhan industri dunia secara berkelanjutan.

"Karena industri kan butuhnya tiga hal. Kuantitas kudu terjaga, kualitasnya juga kudu standar sama gitu, lampau delivery time," sebut Trenggono.

"Nah jika di dalam budidaya ini jika kita tidak... jika di industri kenapa menurut saya sekarang ini belum begitu stabil? Karena bisa naik turun gitu ya kan, kadang-kadang lantaran penanganan alias langkah berbudidaya nya tidak stabil juga, efeknya adalah kena penyakit lah dan seterusnya gitu. Itu kan menyebabkan tidak stabil. Nah ini nan kudu kita koreksi dulu," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya