TPAKD: Dari Akses Menuju Kesejahteraan

1 jam yang lalu 3

loading...

Candra Fajri Ananda, Wakil Ketua Badan Supervisi OJK. Foto/Dok. SindoNews

Candra Fajri Ananda
Wakil Ketua Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

EKONOMI Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025, dengan Produk Domestik Bruto mencapai Rp23.821,1 triliun dan PDB per kapita sebesar Rp83,7 juta (BPS, 2026). Namun, di kembali pertumbuhan tersebut, Bank Indonesia mencatat tetap terdapat akomodasi angsuran nan belum dimanfaatkan (undisbursed loan) sebesar Rp2.506,47 triliun alias 22,65% dari plafon angsuran nan tersedia pada Januari 2026.

Dua nomor ini menghadirkan sebuah paradoks: ketika biaya tersedia dalam jumlah besar, sebagian kapabilitas pembiayaan belum sepenuhnya berjumpa dengan kebutuhan produktif masyarakat dan bumi usaha. Persoalan pembangunan ekonomi, lantaran itu, tidak semata-mata terletak pada seberapa banyak likuiditas tersedia alias seberapa besar angsuran dapat disalurkan.

Tantangan nan lebih mendasar adalah memastikan bahwa sumber daya finansial tersebut betul-betul mengalir menuju aktivitas nan produktif, menciptakan nilai tambah, membuka kesempatan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sektor finansial pada hakikatnya menjalankan kegunaan seperti sistem sirkulasi dalam perekonomian. Dana dihimpun dari masyarakat, dialokasikan kembali melalui kredit, pembiayaan, investasi, dan beragam instrumen pengelolaan risiko, kemudian diterjemahkan oleh sektor riil menjadi produksi, pendapatan, dan kesempatan ekonomi.

Karena itu, sektor finansial nan sehat dan sektor riil nan produktif kudu tumbuh secara beriringan. Sistem finansial nan kuat tidak bakal menghasilkan akibat optimal andaikan pelaku usahanya belum mempunyai produk nan kompetitif, tata kelola nan baik, produktivitas nan memadai, alias akses pasar nan luas.

Sebaliknya, sektor riil nan potensial juga susah berkembang ketika akses terhadap modal terlalu terbatas, mahal, alias tidak sesuai dengan siklus usahanya. Modal, dengan kata lain, hanya bakal memberikan faedah ketika berjumpa dengan upaya nan mempunyai kapabilitas untuk mengubahnya menjadi nilai ekonomi.

Demikian pula ekspansi akses keuangan, tak semestinya hanya bertumpu pada perbankan. Masyarakat dan bumi upaya mempunyai karakter serta kebutuhan nan beragam sehingga memerlukan lebih banyak pintu pembiayaan melalui pergadaian, koperasi, perusahaan pembiayaan, modal ventura, lembaga finansial mikro, asuransi, maupun jasa pendanaan berbasis teknologi.

Selengkapnya