Transformasi Digital Indonesia Memasuki Era Agentic AI

55 menit yang lalu 4
Transformasi Digital Indonesia Memasuki Era Agentic AI Ilustrasi(Dok Istimewa)

PERKEMBANGAN artificial intelligence (AI) di Indonesia memasuki fase baru. Teknologi AI tidak lagi sekadar digunakan sebagai chatbot untuk menjawab pertanyaan pelanggan, tapi mulai diarahkan jadi Intelligent Agentic AI nan bisa memahami pelanggan, mengingat riwayat interaksi, memberikan rekomendasi, hingga menjalankan proses upaya secara lebih menyeluruh.

Perubahan ini sejalan dengan semakin banyak perusahaan dari beragam sektor mengangkat AI untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, dan kualitas jasa pelanggan.

Co-Founder dan Chief Technology Officer (CTO) Covena AI Jason Tjahjono mengatakan kebutuhan bumi upaya terhadap AI sekarang berkembang jauh melampaui keahlian menjawab pesan otomatis.

“Banyak AI terlihat canggih saat demo. Tapi begitu dicoba langsung, jawaban AI-nya tidak sesuai ekspektasi. Banyak pebisnis sudah mempercayakan Covena sebagai revenue channel mereka. Karena itu, kami membangun prasarana AI dengan kualitas sebagai prioritas utama agar tetap diandalkan ketika AI sudah digunakan pengguna dalam operasional sehari-hari,” ujar Jason, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, tantangan penerapan AI bukan hanya menghasilkan respons cepat, tetapi memastikan jawaban tetap jeli dan relevan secara konsisten. Karena itu, Covena AI mengembangkan AI Sales Agent dengan keahlian self-improving nan memungkinkan AI terus belajar dari hubungan pelanggan.

Dalam waktu kurang dari dua tahun, Covena AI menyatakan telah dipercaya beragam perusahaan enterprise lintas industri, antara lain Garuda Indonesia, AYANA Bali, CoLearn, ALVA Auto, dan AECC. Tingkat kecermatan respons AI disebut mencapai lebih dari 97% dalam menangani ribuan pesan setiap hari.

Jason menilai perkembangan tersebut menunjukkan AI mulai bergeser dari customer service automation menjadi teknologi nan terintegrasi dengan proses bisnis. AI Sales Agent sekarang dilengkapi Customer Memory, AI-native CRM, analitik upaya dan pemasaran, serta integrasi dengan beragam platform untuk penjadwalan, pembayaran, pengiriman, dan pengelolaan pelanggan.

Integrasi tersebut mencakup Google Maps, Calendar, dan Sheets, jasa Grab, Gojek, Lalamove, hingga payment gateway Xendit dan Stripe. “Tujuannya bukan sekadar membikin AI bisa membalas chat, tetapi gimana setiap percakapan dengan pengguna dapat menjadi bagian dari proses upaya nan menghasilkan nilai dan revenue,” kata Jason.

Covena juga mengembangkan fitur Automations untuk follow-up dan pengingat pembayaran, Pass Back to AI untuk kerjasama AI dan pemasok manusia, Ticket Intelligence untuk menganalisis percakapan, serta Co-pilot Mode dan Watchtower untuk menjaga kualitas respons AI. Pemanfaatan AI tersebut mulai memberikan akibat di beragam sektor. 

Pada Garuda Indonesia, integrasi jasa melalui WA untuk pemesanan tiket, GarudaMiles, refund, rescheduling hingga online check-in disebut menghasilkan revenue sekitar Rp1,675 miliar. Dalam satu bulan, lebih dari 71.000 percakapan pengguna ditangani AI dengan CSAT 4,34 dari skala 5.

Pada CoLearn, AI menangani lebih dari 150.000 percakapan dengan kecermatan di atas 97% dan disebut menghasilkan tambahan revenue hingga ratusan juta rupiah dan menurunkan biaya akuisisi pengguna hingga 25%.
Sementara AECC Indonesia memanfaatkan AI untuk memperkuat komunikasi dengan lebih dari 20.000 siswa dan membantu akuisisi lebih dari 500 siswa baru dalam tiga hingga empat bulan.

Di ALVA Auto, penerapan AI untuk otomatisasi penjualan dan customer engagement disebut menghasilkan tambahan revenue lebih dari Rp588 juta per kuartal dan menangani lebih dari 16.000 percakapan pelanggan.
Perkembangan itu menunjukkan AI mulai ditempatkan bukan hanya sebagai perangkat untuk mengurangi pekerjaan administratif, tetapi sebagai bagian dari strategi penjualan, pelayanan, analitik, dan pengambilan keputusan bisnis.

Jason mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan AI bisa beradaptasi dengan workflow perusahaan sekaligus tetap bekerja-sama dengan tenaga manusia.

“AI kudu bisa beradaptasi dengan kebutuhan bisnis, bekerja-sama dengan tim manusia, dan memberikan kualitas jasa nan konsisten,” ujarnya.

Perubahan dari chatbot menuju Agentic AI menandai babak baru mengambil kepintaran buatan di Indonesia. AI berkesempatan berkembang dari teknologi pendukung menjadi bagian dari prasarana upaya nan bekerja sepanjang waktu dan terhubung langsung dengan proses penjualan, pelayanan, serta pembuatan revenue. (H-2)

Selengkapnya