Trump Ancam Sanksi Ekonomi Berat bagi Negara yang Bantu Iran

53 menit yang lalu 1
Trump Ancam Sanksi Ekonomi Berat bagi Negara nan Bantu Iran Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman balasan ekonomi berskala besar. Trump menegaskan bakal menjatuhkan hukuman berat terhadap negara mana pun nan memberikan support alias menjalin hubungan upaya dengan Teheran.

Ancaman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social pada Rabu (19/8/2026) waktu setempat. Langkah ini diambil saat bentrok regional memasuki bulan keenam tanpa ada tanda-tanda penyelesaian, baik melalui jalur diplomatik maupun militer. Selain itu, kebijakan keras ini muncul di tengah sorotan politik domestik menjelang pemilihan umum AS pada November mendatang.

Operasi Ekonomi Terbesar

Trump mendeskripsikan langkah baru ini sebagai operasi ekonomi terbesar nan pernah diarahkan terhadap suatu negara. Ia menegaskan bahwa Washington bakal menggunakan isolasi ekonomi sebagai senjata utama untuk menekan Iran secara total.

"Hari ini saya mengumumkan operasi ekonomi paling menghancurkan nan pernah dilakukan terhadap negara mana pun. Ini bakal menjadi perang ekonomi dan isolasi dalam skala nan belum pernah terjadi," ujar Trump dalam pernyataannya.

Trump juga memperluas cakupan ancamannya. Ia memperingatkan bahwa pemerintah, perusahaan, pengelola bandara, hingga lembaga finansial nan menyediakan jalan keluar bagi Iran bakal menghadapi akibat ekonomi nan sangat berat.

"Saya juga mengumumkan bahwa negara mana pun nan mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, alias entitas pemerintahnya memberikan support dalam corak apa pun kepada Iran bakal menghadapi akibat ekonomi nan sangat berat," tegasnya.

Meski demikian, Trump belum merinci corak hukuman spesifik nan bakal dijatuhkan. Ia juga tidak menyebut nama negara tertentu nan menjadi sasaran bidikan hukuman sekunder tersebut.

Ketegangan di Selat Hormuz

Kebijakan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, nan sebelumnya mengisyaratkan pemberlakuan isolasi ekonomi terhadap Iran dalam skala nan belum pernah terjadi.

Tekanan ekonomi ini memuncak di tengah situasi panas di Selat Hormuz. Walaupun intensitas serangan rudal dilaporkan mereda dalam beberapa hari terakhir, Iran tetap melakukan blokade efektif terhadap jalur pelayaran strategis tersebut. Selat Hormuz merupakan rute vital bagi perdagangan daya dunia.

Upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur tersebut melalui kesepakatan sementara antara AS dan Iran dikabarkan kandas. Padahal, sebelumnya kedua belah pihak sempat mengakui ada pertukaran pesan nan memicu angan bakal solusi damai.

Namun, Trump secara tegas menyatakan bahwa pembicaraan berakhir. Dalam unggahan media sosialnya, dia apalagi melontarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Selat Hormuz berpotensi menjadi wilayah baru Amerika Serikat, sinyal bahwa Washington tidak bakal mengendurkan tekanan terhadap Teheran dalam waktu dekat. (AFP/I-2)

Selengkapnya