Trump Beri Sinyal "Manja" ke Kim Jong Un, Korsel Bakal Dikorbankan?

14 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah merespons upayanya untuk kembali membuka komunikasi. Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump memerintahkan Pentagon mengurangi latihan militer berbareng AS dan Korea Selatan.

Ketika ditanya mengenai argumen Kim belum merespons upayanya untuk kembali menjalin komunikasi, Trump justru mengatakan bahwa pemimpin Korea Utara tersebut sudah memberikan respons.

"Dia sudah," kata Trump, Senin (18/8/2026), dilansir Reuters. Namun, Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai corak maupun isi respons Kim tersebut.

Pejabat Gedung Putih maupun misi Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York belum segera memberikan tanggapan ketika dimintai komentar.

Hubungan Trump dan Kim mendapat perhatian lebih mini dari Gedung Putih dibandingkan masa kedudukan pertama Trump. Saat itu, kedua pemimpin berjumpa dalam sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan saling berganti surat.

Meski demikian, Trump berulang kali menunjukkan ketertarikannya untuk menghidupkan kembali diplomasi langsung dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

Pernyataan terbaru Trump muncul sehari setelah dia memerintahkan Pentagon untuk "secara substansial mengurangi" latihan militer berbareng Korea Selatan. Trump menyebut biaya latihan sebagai salah satu alasannya, selain keputusan Seoul nan tidak bersedia ikut dalam tindakan terhadap Iran.

Korea Utara selama ini mengecam latihan militer campuran AS-Korea Selatan sebagai persiapan untuk perang.

Pada Minggu, Trump juga menyebut Korea Utara sebagai negara nan "tidak menakut-nakuti dan penuh rasa hormat".

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump mengatakan latihan militer tersebut "tidak hanya mahal ... tetapi mengirimkan sinyal nan sama sekali tidak layak dan berbeda kepada negara yang, selama Donald J. Trump menjadi presiden, tidak menakut-nakuti dan penuh rasa hormat."

Meski Korea Utara dinilai bersikap dingin terhadap pendekatan Trump dan posisi Kim sekarang jauh lebih kuat dibandingkan saat pertemuan terakhir kedua pemimpin, sejumlah analis menilai pertemuan baru antara Trump dan Kim tetap mungkin terjadi.

Victor Cha, kepala program Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, mengatakan Korea Utara kemungkinan tidak bakal langsung memberikan respons.

"Saya pikir mereka bakal menunggu dan bersabar sebentar," kata Cha.

Menurut Cha, salah satu argumen Trump kembali mengangkat rumor Korea Utara kemungkinan berangkaian dengan upayanya mengalihkan perhatian dari kesulitan nan dihadapinya dalam perang Iran. Namun, menurutnya, Trump juga jelas mempunyai kesukaan untuk kembali berjumpa dengan Kim.

Andrew Yeo dari Brookings Institution di Washington menilai pertemuan baru dengan Trump juga dapat memberikan untung bagi Kim.

"Sebagian orang mengatakan bahwa tidak ada argumen bagi Kim Jong Un untuk berjumpa Trump lantaran sekarang dia mempunyai Rusia dan China di kantongnya. Namun, di sisi lain, saya merasa dia tidak bakal rugi apa pun dengan berjumpa Trump lantaran dia mempunyai Rusia dan China di kantongnya," kata Yeo.

Menurut Yeo, bagi Kim, pertemuan tersebut bukan semata-mata mengenai substansi diplomasi, tetapi juga reputasi. "Ini hanya masalah waktu dan kapan waktu nan paling optimal bagi Kim Jong Un," lanjut Yeo.

Sydney Seiler, mantan pejabat National Intelligence Officer AS untuk Korea Utara, mengatakan langkah terbaru Trump bukan sesuatu nan sepenuhnya baru.

Ia mengingatkan bahwa pada 2018 Trump pernah menghentikan latihan militer besar Ulchi Freedom Guardian untuk mendorong perbincangan dengan Kim.

"Memang, saat itu perihal tersebut tidak memberi kita banyak keuntungan, tetapi saya juga tidak berpikir kita kehilangan banyak perihal saat itu," kata Seiler.

Hubungan Trump dan Kim memang menjadi salah satu tema utama pada masa kedudukan pertama Trump.

Keduanya menggelar pertemuan tingkat tinggi pada 2018 dan 2019. Namun, perundingan kemudian terhenti lantaran perbedaan mengenai persenjataan nuklir Korea Utara.

Pada tahun lalu, kerabat wanita Kim nan mempunyai pengaruh besar, Kim Yo Jong, mengakui bahwa hubungan pribadi antara kakaknya dan Trump "tidak buruk".

Namun, dia memperingatkan bahwa andaikan Washington bermaksud menggunakan hubungan pribadi tersebut sebagai jalan untuk mengakhiri program nuklir Pyongyang, upaya tersebut hanya bakal menjadi bahan "ejekan".

Sejak pertemuan terakhir Trump dan Kim pada 2019, posisi Korea Utara juga telah berubah secara signifikan.

Pyongyang memperkuat hubungan dengan Rusia sembari mempertahankan hubungan erat dengan China. Pasukan Korea Utara apalagi telah bertempur berbareng Rusia dalam invasinya ke Ukraina.

Pemerintah Ukraina pada pekan lampau mengatakan rudal buatan Korea Utara digunakan dalam serangan rudal balistik Rusia terhadap sebuah pabrik baja di Zaporizhzhia.

Pemerintahan Trump selama ini berulang kali mengkritik support militer Korea Utara kepada Rusia dalam perang di Ukraina. Namun, Trump pada Senin justru kembali menekankan hubungan pribadinya dengan Kim.

"Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan penuh rasa hormat," kata Trump. "Saya memahaminya. Dia memahami saya," lanjutnya.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya