Trump Kritik Serangan Israel di Jalur Gaza

18 jam yang lalu 4
Trump Kritik Serangan Israel di Jalur Gaza Warga Gaza.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Israel semestinya tidak lagi melakukan serangan terhadap target-target di Jalur Gaza, Palestina. Pernyataan ini muncul saat utusan khususnya, Jared Kushner, berjumpa dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (17/8/2026) waktu setempat, guna menyelamatkan rencana perdamaian nan mulai goyah untuk melucuti senjata Hamas dan mengakhiri perang di wilayah kantong Palestina tersebut.

Dalam keretakan publik nan jarang terjadi di antara kedua sekutu dekat tersebut, Netanyahu pekan lampau menolak rencana Trump untuk pelucutan senjata berjenjang oleh Hamas. Setelah jarak singkat, Israel melanjutkan serangan nyaris setiap hari terhadap milisi Palestina, termasuk beberapa sasaran nan menurut Israel terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023.

Klaim Trump mengenai Kesediaan Hamas

Berbicara kepada Fox News pada Senin, Trump menegaskan bahwa Israel tidak semestinya melanjutkan serangan tersebut lantaran dia mengeklaim Hamas setuju untuk meletakkan senjata. "Pada akhirnya, mereka menyerahkan senjata," ujar Trump sebagaimana dilaporkan koresponden luar negeri Fox, Trey Yingst.

Trump sebelumnya menyatakan pada akhir Juli bahwa Hamas menyetujui peta jalan 15 poin. Rencana tersebut mencakup penyerahan senjata Hamas kepada otoritas Palestina dengan hadiah penarikan pasukan Israel secara berjenjang dari Jalur Gaza. Namun, kedua belah pihak berbeda mengenai pihak yang kudu memulai langkah pertama karena Israel menolak mundur sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.

Misi Diplomatik Jared Kushner

Kunjungan Kushner, menantu sekaligus penasihat utama Trump, menandakan meningkatnya rasa frustrasi presiden atas stagnasi rencana tersebut. Sebelum berjumpa Netanyahu, Kushner dilaporkan bertemu dengan pejabat Hamas pada hari Minggu di kota El Alamein, Mesir, untuk pembicaraan langsung nan juga dihadiri oleh pemimpin Hamas, Khalil Al-Hayya.

Dalam pertemuan selama tiga jam dengan Netanyahu dan pejabat Board of Peace, disepakati bahwa militer Israel tidak bakal menarik diri dari Gaza sampai Hamas menyerahkan senjatanya. Israel juga tetap memegang kewenangan untuk merespons ancaman di masa depan.

Pernyataan Jared Kushner:
"Bagi Israel, kami pikir ini adalah situasi saling menguntungkan (win-win). Jika Hamas betul-betul menyerahkan senjata dan terowongan secara sukarela dalam 60 hingga 90 hari ke depan, itu bakal menghilangkan ancaman keamanan besar bagi Israel. Jika mereka tidak menepati janji, Israel bakal mendapat lebih banyak support dari AS dan pihak lain untuk menyelesaikan tugas tersebut."

Kondisi Gaza dan Tekanan Politik

Rencana perdamaian Trump awalnya dimulai dengan gencatan senjata pada Oktober nan sukses menukar sandera dengan nyaris 2.000 penduduk Palestina di penjara Israel. Namun, kemajuan terhenti saat Hamas menolak pelucutan senjata total dan Israel melanjutkan operasi militernya.

Saat ini, sekitar dua juta penduduk Gaza berada dalam ketidakpastian, sebagian besar mengungsi di kamp-kamp darurat dan sangat berjuntai pada support kemanusiaan. Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan politik domestik menjelang pemilu Oktober mendatang, dengan jajak pendapat menunjukkan penurunan support terhadap partainya.

Delegasi nan dipimpin Kushner dalam misi ini juga melibatkan tokoh-tokoh kunci seperti utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, dan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dalam upaya terakhir untuk mendorong transfer kekuasaan kepada badan sipil Palestina nan baru dan memulai rekonstruksi Gaza. (The Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya