Negara Arab Sohib Israel Ini Ngamuk, Putus Hubungan dengan Iran

48 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) menuduh Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah wilayahnya pada hari Selasa. Serangan militer mematikan ini terjadi tepat saat jarak waktu dua bulan untuk pembicaraan tenteram Amerika Serikat (AS) dan Iran berhujung tanpa adanya terobosan.

Hal ini membikin Abu Dhabi langsung murka. Negara Arab nan membuka hubungan dengan Israel melalui Perjanjian Abraham (Abraham Accord) nan diinisiasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tersebut, langsung menghentikan seluruh transaksi perdagangan serta finansial dengan Teheran.

Mengutip Russia Today, Rabu (19/08/2026), dugaan kejadian serangan tersebut dilaporkan langsung oleh Kementerian Pertahanan UEA dan Otoritas Manajemen Krisis dan Bencana Darurat Nasional (NCEMA). Kedua lembaga itu menyebut ada dua rudal menyerang di mana satu rudal jatuh di dalam perairan teritorial UEA sementara rudal nan kedua mendarat di luar perairan.

Pada hari nan sama, Kementerian Pertahanan UEA juga memberikan info lanjutan bahwa proyektil tersebut tampaknya sengaja menargetkan "navigasi maritim". Pihak kementerian tidak merinci lebih lanjut apakah ini mengenai kapal pelayaran tertentu nan beraksi di perairan domestiknya alias di perairan internasional.

Militer UEA kemudian memberikan penilaian mengenai dugaan serangan mematikan tersebut. Setelahnya Kementerian Luar Negeri langsung UEA mengambil langkah tegas dan mengumumkan penghentian semua aktivitas perdagangan dan transaksi dengan Iran.

"Mengingat eskalasi regional nan merusak perdamaian dan keamanan regional serta internasional, semua kegiatan, pertukaran perdagangan, dan transaksi finansial dengan Iran telah ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut," tegasnya.

Iran hingga saat ini belum memberikan komentar publik secara resmi mengenai tuduhan tersebut. Pada puncak peperangan AS-Israel terhadap Iran, Teheran diketahui berulang kali menargetkan negara Teluk itu lantaran dituduh telah mengizinkan pasukan AS menggunakan wilayah UEA untuk melancarkan serangannya.

Namun, stasiun penyiaran milik pemerintah Iran, Press TV, justru menyatakan bahwa rentetan serangan rudal tersebut mempunyai karakter unik sebagai "operasi bendera tiruan (false-flag)". Ini merujuk serangan kusus di mana Israel berada di belakang serangan.

Sementara itu, waktu 60 hari nan ditetapkan dalam memorandum AS-Iran untuk mencapai kesepakatan tenteram diketahui telah kedaluwarsa pada hari Senin, tanpa menghasilkan satu pun terobosan. Kedua belah pihak justru berulang kali saling berbalas serangan selama periode negosiasi berlangsung, sementara lampau lintas pelayaran melalui Selat Hormuz nan strategis sebagian besar tetap lumpuh dan terganggu.

Selasa, Trump mengonfirmasi bahwa tidak ada pembicaraan nan sedang berjalan alias dijadwalkan dengan pihak Iran saat ini. Ia menyampaikan pernyataannya tersebut secara gamblang melalui sebuah unggahan di platform Truth Social.

"Blokade Angkatan Laut tetap bertindak penuh dan efektif. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau air telah disingkirkan alias diledakkan," ungkapnya.

Trump juga melontarkan klaim barunya di unggahan kemarin. Sang presiden membagikan peta Selat Hormuz beserta sekitarnya dengan area nan dilingkari dan diberi label milik AS.

"Wilayah baru Amerika Serikat," bunyi tulisan itu.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya