Tuchel: Karma Gol Tangan Tuhan Bantu Inggris Taklukkan Meksiko

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNN Indonesia --

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, meyakini skuad The Three Lions bakal meluruskan sejarah kelam masa lampau soal legenda gol Tangan Tuhan.

Ia percaya aspek "karma" bakal berpihak pada anak asuhnya saat Inggris kembali menginjakkan kaki di Stadion Azteca nan legendaris.

Pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 nan mempertemukan Inggris kontra salah satu tim tuan rumah, Meksiko, Minggu (5/7) mendatang, membawa Inggris kembali ke stadion berhistoris itu untuk pertama kalinya sejak duel tak terlupakan melawan Argentina nan dipimpin Diego Maradona pada Piala Dunia 1986.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dua gol mendiang sang maestro saat membawa Argentina membungkam Inggris 2-1 di perempat final kala itu telah menjadi cerita ikonik sepak bola dunia. Maradona menciptakan gol solo magis nan memukau bumi tepat setelah dia memenangi duel udara dengan meninju bola melewati kiper Peter Shilton, gol kontroversial nan sekarang kekal dengan julukan "Tangan Tuhan".

Tuchel mengingat betul momen Piala Dunia tersebut saat dirinya tetap anak-anak. Kini, dia percaya keadilan kosmis bakal membantu timnya meruntuhkan keangkeran Azteca.

"Ya, takdir bakal menghadiahi kami kali ini. Kami bakal mengambil kembali apa nan hilang. Ini masalah karma, dan karma itu bakal datang berpihak pada kami untuk membalikkan keadaan," ujar Tuchel antusias, seperti dilansir ESPN.

"Saya tentu ingat Piala Dunia era Maradona. Dua gol ke gawang Inggris, satu gol dari tindakan dribel jenius dan satu gol lagi nan jelas tidak bakal pernah disahkan jika ada teknologi era sekarang," katanya.

"Saat itu saya baru berumur 13 tahun dan Jerman [Barat] menghadapi Argentina di laga final. Azteca adalah stadion nan sangat ikonik," kenang Tuchel. "Saya sangat antusias menyambut laga ini. Menghadapi Meksiko di Meksiko adalah pertandingan nan ikonik, tetapi di sana kami bakal bertanding melawan daya dari seluruh masyarakat di negara mereka," imbuhnya.

Bagi Tuchel, laga ini adalah "momen nan tepat untuk berbaikan dengan Stadion Azteca". Meski begitu, Inggris dipastikan kudu melewati rentetan rintangan berat.
Selain tekanan suporter tuan rumah, tantangan terbesar Inggris adalah bermain di ketinggian ekstrim lebih dari 2.200 meter di atas permukaan laut. Untuk menyiasatinya, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) apalagi telah berkonsultasi dengan Tim Olimpiade Britania Raya.

Inggris memutuskan untuk mempercepat agenda keberangkatan mereka ke Mexico City menjadi hari Jumat (3/7), alias dua malam sebelum pertandingan dimulai.
"Laju bola bakal sangat berbeda di dataran tinggi, mungkin bisa meluncur lima pekarangan lebih jauh. Ini situasi nan susah dan kami butuh pengalaman merasakannya langsung," jelas Tuchel.

"Rekomendasi medisnya adalah Anda kudu tiba 10 hari sebelum laga, nan mana terlalu lama bagi kami, alias tiba di menit-menit terakhir menjelang sepak mula, namun opsi kedua tidak diizinkan regulasi. Jadi, kami mengambil jalan tengah di antara keduanya, meski aspek ketinggian ini bakal tetap menjadi kerugian bagi kami dan untung besar bagi Meksiko," terang pembimbing asal Jerman ini.

Inggris, nan lolos ke babak 16 besar setelah membalikkan kedudukan secara dramatis untuk menang 2-1 atas DR Kongo pada Rabu lalu, dipastikan bakal disambut oleh atmosfer neraka di Stadion Azteca.

Teror dari pendukung lokal diprediksi apalagi sudah bakal dimulai sejak malam hari sebelum pertandingan di hotel tempat tim menginap, berkaca pada nasib apes timnas Ekuador nan dibuat tidak bisa tidur nyenyak di babak sebelumnya akibat pesta kembang api suporter Meksiko.

"Kami sudah mengantisipasi perihal tersebut. Apa nan bisa kami lakukan? Tentu saja kami bakal membawa perlengkapan unik [seperti penyumbat telinga/ear plugs], tetapi intinya saya siap menghadapi segala situasi," pungkas Tuchel.

[Gambas:Video CNN]

(wiw/sry)

Add as a preferred
source on Google
Selengkapnya