Tujuan Akhir Hilirisasi: Bangun Struktur Industri-Kedaulatan Ekonomi

46 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengungkapkan hilirisasi nan sekarang digaungkan oleh pemerintah bukan hanya sebatas membangun smelter, melainkan memperkuat struktur industri nasional. Melalui hilirisasi kekayaan sumber daya alam bisa ditingkatkan menjadi kelebihan industri.

"Tujuan akhir hilirisasi bukan hanya segera membangun smelter. Tujuannya adalah membangun struktur industri nasional nan kuat dan mandiri," kata Todotua dalam aktivitas Mindialogue 2026: Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI, (Rabu 12/8/2026).

"Keunggulan industri menjadi kelebihan teknologi, dan kelebihan teknologi menjadi kekuatan, serta kedaulatan ekonomi Indonesia," tambahnya.

Todotua mengatakan hilirisasi menjadi langkah strategis lantaran bukan hanya dari sisi volume, melainkan juga menciptakan nilai tambah. Meski demikian, dia mengakui tetap ada tantangan nan dihadapi untuk merealisasikan hilirisasi, ialah struktur biaya nan tinggi. Pasalnya, jika hilirisasi dijalankan namun tidak berkekuatan saing malahan bakal menjadi persoalan besar.

"Bagaimana caranya memitigasi cost terhadap hilirisasi, lantaran bakal menjadi omong kosong jika kita memaksakan hilirisasi, tetapi tidak mempunyai daya saing," tegas Todotua.

Untuk itu, kudu ada mitigasi strategi penggunaan energi, logistik, hingga rantai pasok nan selama ini tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Todotua juga mengatakan kontribusi investasi di bagian hilirisasi saat ini mencapai 29,7% dari total realisasi investasi Semester I-2026. Menurutnya, peningkatan investasi pada program hilirisasi menjadi jagoan untuk menuju pertumbuhan ekonomi sebesar 8%.

Berdasarkan bahan paparannya, sektor mineral tetap menjadi tulang punggung investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp206,5 triliun sepanjang semester I-2026. Investasi tersebut berasal dari hilirisasi di sektor strategis.

Misalnya seperti nikel sebesar Rp71 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi dan baja Rp30,2 triliun, pasir silika Rp5,9 triliun, serta beragam komoditas mineral lainnya senilai Rp8,2 triliun. Namun nan menarik, peta investasi hilirisasi mengalami perubahan pada kuartal II-2026. Untuk pertama kalinya, bauksit menggeser kekuasaan nikel sebagai komoditas dengan investasi hilirisasi terbesar.

(rah/rah) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya