ARTICLE AD BOX
loading...
Ketua Umum AMKI Pusat Tundra Meliala (duduk, menulis) beserta jejeran dalam aktivitas kunjungan ke lembaga mitra kolaborasi. Foto/Dok. AMKI
JAKARTA - Setahun pertama kepengurusan Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) menjadi fase krusial untuk mengukur apakah sebuah organisasi baru bisa memperkuat sebagai pendapat alias sekadar menambah panjang daftar organisasi media di Indonesia. Sejak diiniasi pendiriannya pada akhir Desember 2024, AMKI mencoba membaca perubahan zaman.
Media massa tidak lagi berdiri dalam kotak-kotak lama. Batas antara media cetak, media siber, televisi, platform digital, media sosial, hingga pembuat konten semakin kabur. Informasi bergerak melalui beragam kanal sekaligus. Konsep itulah nan kemudian menjadi fondasi AMKI ialah mendorong ekosistem media menuju era konvergensi. Namun, pendapat baru selalu berhadapan dengan persoalan kepercayaan publik.
Ketua Umum AMKI Pusat Tundra Meliala mengatakan, industri media dunia saat ini menghadapi tekanan berlapis. Perubahan pola konsumsi berita, pergeseran iklan ke platform digital, serta kekuasaan perusahaan teknologi dunia membikin model upaya media konvensional semakin rapuh. Baca juga: Pemerintah Gandeng Homeless Media, Dewan Pers: Mereka Jangan Menjadi Humas
”Laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 menunjukkan pola konsumsi buletin digital terus meningkat, sementara ketergantungan publik pada platform seperti mesin pencari, media sosial, dan agregator semakin besar,” katanya dalam siaran pers, Minggu (28/6/2026).
Di Indonesia, persoalan itu terasa semakin nyata. Media kudu berhadapan dengan kekuasaan platform teknologi dunia seperti Google, YouTube, TikTok, dan Meta dalam pengedaran info dan perebutan iklan digital. Ketika arus duit iklan berpindah, perusahaan pers dipaksa mencari model upaya baru agar tetap hidup.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·