ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas pemerintah Iran mengumumkan telah sukses mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah dalam dua pekan terakhir sejak Amerika Serikat (AS) resmi mencabut blokade angkatan lautnya. Tidak hanya keran ekspor nan kembali mengucur masif, Teheran sekarang juga sukses menjual komoditas emas hitam tersebut dengan nilai premium nan jauh lebih tinggi, sekitar 20% dibandingkan dengan level nilai sebelum perang pecah.
Mengutip laporan CNBC Internaional, Rabu (01/07/2026), lonjakan ekspor ini terjadi pasca-penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran pada 17 Juni lalu, nan menyepakati penghentian perang selama empat bulan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengonfirmasi bahwa pengapalan minyak lepas pantai melangkah sangat garang setelah sebelumnya Iran sama sekali tidak bisa menjual satu barel pun minyak akibat penguncian pelabuhan oleh militer AS.
"Sejak hari blokade laut dicabut, kami telah mengekspor lebih dari 40 million barel minyak," ungkap Ghalibaf dalam wawancara televisi nan dipublikasikan melalui saluran Telegram miliknya.
Di sisi lain, perusahaan pencarian kapal tanker TankerTrackers.com apalagi merilis perkiraan nan lebih tinggi pada hari Rabu, di mana mereka memproyeksikan Iran telah menggelontorkan hingga 50 juta barel minyak mentah ke pasar dunia dengan memanfaatkan pantauan gambaran satelit dan sistem identifikasi otomatis real-time. Banjir pasokan baru dari Teluk ini seketika membikin nilai minyak mentah jenis Brent melandai di kisaran US$ 73 (Rp 1,3 juta) per barel, merosot nyaris 40% dari puncak nilai tertinggi masa perang sebesar US$ 118 (Rp 2,1 juta) pada April lalu.
Berdasarkan draf kesepakatan MoU selama masa pemulihan 60 hari ini, Iran memang setuju untuk mengizinkan kapal jual beli melintasi Selat Hormuz secara cuma-cuma tanpa ditarik biaya tol. Kendati demikian, Teheran dengan sangat tegas menolak melunakkan posisi politiknya dan berkeras untuk mempertahankan kendali penuh atas kewenangan manajemen serta kedaulatan jalur maritim strategis tersebut.
"Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lampau lintas di selat tersebut tunduk pada pengaturan nan ditentukan oleh Iran. Iran tidak bakal menyerahkan hak-haknya di Selat Hormuz dalam kondisi apa pun, dan ini adalah wilayah perairan kami," ujar Ghalibaf.
Selain masalah kedaulatan selat, Ghalibaf juga melayangkan sanggahan keras terhadap klaim sepihak Presiden AS Donald Trump. Ia menyatakan bahwa biaya persediaan devisa Iran nan dicairkan wajib digunakan untuk memborong produk pertanian asal Amerika.
"Senilai US$ 12 miliar (Rp 215,40 triliun) dari total sekitar US$ 24 billion (Rp 430,80 triliun) aset asing nan sempat dibekukan bakal langsung ditransfer ke bank sentral Iran untuk dibelanjakan komoditas apa pun secara bebas di pasar internasional tanpa intervensi mata duit dari Washington," tambah Ghalibaf
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·