Jakarta, CNBC Indonesia - Korban meninggal bumi akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 nan mengguncang wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 71 orang. Di sisi lain, puluhan ribu penduduk tetap mengungsi lantaran rumah mengalami kerusakan dan cemas terhadap gempa susulan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berto Panjaitan mengatakan jumlah korban meninggal bumi bertambah satu orang menjadi 71 orang. Korban tambahan tersebut tercatat di Kabupaten Nagekeo.
"Kami bakal menyampaikan bahwa jumlah korban ada bertambah satu orang menjadi 71 ialah di Kabupaten Nagekeo. Kami segenap pemerintah maupun dari kementerian lembaga nan ada bersama-sama saat ini mengucapkan belasungkawa nan sedalam-dalamnya," kata Berto dalam konvensi pers virtual, Rabu (19/8/2026).
Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026. BMKG menyebut gempa tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Setelah gempa utama, aktivitas kegempaan tetap berlanjut. BMKG hingga Rabu pukul 14.00 WIB mencatat 3.002 gempa susulan dengan magnitudo 1,1 hingga 6,2. Sebanyak 86 gempa susulan dirasakan masyarakat, termasuk 25 kejadian dengan magnitudo 5 alias lebih.
Aktivitas gempa susulan tersebut turut membikin sebagian masyarakat memilih memperkuat di letak pengungsian dan tidak kembali ke rumah. Selain lantaran kerusakan bangunan, penduduk tetap cemas terhadap potensi gempa susulan. BNPB mencatat jumlah pengungsi saat ini mencapai 59.647 orang. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, ialah mencapai 20.334 orang.
"Penanganan pengungsi saat ini bahwa pengungsi menjadi salah satu konsentrasi utama kami lantaran sebagian masyarakat memilih untuk tidak kembali ke rumah, terutama lantaran kondisi bangunannya rusak dan kekhawatiran terhadap gempa susulan," kata Berto.
Pemerintah memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terus dipenuhi. Kebutuhan tersebut mencakup makanan dan air bersih, tenda alias tempat tinggal sementara, matras dan selimut, jasa kesehatan, sanitasi dan kebersihan, serta kebutuhan golongan rentan seperti anak-anak, lansia, ibu mengandung dan penyandang disabilitas.
Namun, pengedaran support menghadapi sejumlah tantangan. Pengungsi tidak seluruhnya berada di satu letak terpusat. Sebagian masyarakat memilih tinggal di sekitar rumah masing-masing untuk menjaga kekayaan barang maupun ternak nan mereka miliki.
"Penanganan pengungsi tidak hanya dilakukan di satu letak terpusat lantaran banyak masyarakat tersebar di beberapa titik, terutama di dekat rumah masing-masing lantaran ada argumen keamanan kekayaan barang maupun ternak nan mereka pelihara," ujar Berto.
Di tengah penanganan darurat, pemerintah meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap info nan belum jelas sumbernya. BNPB mengingatkan penyebaran hoaks pascabencana dapat memicu kepanikan, mengganggu penanganan pengungsi dan menghalang pengedaran bantuan.
"Kami menerima adanya beragam info nan beredar di media sosial mengenai kondisi pasca musibah NTT. BNPB menghimbau masyarakat agar selalu tidak langsung mempercayai dan menyebarluaskan info nan belum jelas sumbernya," ujar Berto.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

46 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·