Update Gempa NTT, 14 Orang Meninggal dan Puluhan Bangunan Rusak

42 menit yang lalu 2
Update Gempa NTT, 14 Orang Meninggal dan Puluhan Bangunan Rusak Ilustrasi(Dok SAR Maumere)

GEMPA bumi berkekuatan M7.7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan gedung di sejumlah wilayah.

Berdasarkan pemutakhiran info hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan. Data tersebut tetap dalam proses pendataan, verifikasi dan pengesahan di lapangan.

Korban meninggal sementara tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 3 orang, Kabupaten Manggarai 6 orang dan Kabupaten Manggarai Timur 5 orang. Sementara korban luka dilaporkan di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur.

"BNPB menyampaikan bahwa info korban merupakan info sementara dan tetap dapat berubah seiring proses verifikasi dan pengesahan oleh BPBD berbareng unsur terkait," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Sabtu (15/8).

Selain korban jiwa, sekitar lima kepala family terdampak dan sekitar 2.000 penduduk melakukan pengungsian alias pemindahan mandiri. Sebagian besar penduduk melakukan pemindahan menyusul guncangan kuat dan peringatan awal tsunami nan sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

Dari aspek kerusakan, sementara tercatat 54 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang dan 11 unit rumah rusak ringan. 

"Kerusakan juga terjadi pada lima akomodasi kesehatan, satu akomodasi pendidikan, satu penyimpanan Bulog, tiga akomodasi ibadah serta enam instansi pemerintahan," ungkapnya.

Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan akibat kerusakan cukup signifikan. Tercatat 29 unit rumah rusak berat, sembilan unit rumah rusak sedang dan sembilan unit rumah rusak ringan. 

Selain itu, lima akomodasi kesehatan dan satu akomodasi pendidikan juga mengalami kerusakan. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur tercatat 23 unit rumah rusak berat.

Di Kabupaten Nagekeo, akibat sementara meliputi dua unit rumah rusak berat, satu unit rusak sedang dan dua unit rusak ringan. Selain itu, dua akomodasi ibadah mengalami rusak ringan dan lima instansi pemerintahan terdampak. 

"Kondisi terkini di wilayah tersebut, arus lampau lintas dilaporkan mengalami kemacetan dan listrik tetap padam," ujar dia.

Di wilayah lainnya, Kabupaten Sikka melaporkan tiga korban meninggal bumi dan dua korban luka ringan. Di Kabupaten Manggarai terdapat enam korban meninggal dunia, satu luka berat dan dua luka ringan. Sedangkan Kabupaten Manggarai Timur melaporkan lima korban meninggal dunia, satu luka berat dan lima luka ringan.

Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. 

Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat dan Kota Bima. Gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros.

Gempa utama sempat memicu peringatan awal tsunami. BPBD berbareng unsur mengenai segera mengarahkan masyarakat di wilayah pesisir untuk melakukan pemindahan menuju tempat nan lebih tinggi dan aman. 

Berdasarkan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak terdapat lagi kenaikan muka air laut signifikan nan membahayakan. BMKG menyatakan peringatan awal tsunami berhujung pada pukul 07.31.30 WIB.

Pasca gempa utama, tercatat sedikitnya empat gempa susulan dengan magnitudo antara M5,5 hingga M6,2. Seluruh gempa susulan tersebut tidak berpotensi tsunami.

Untuk Kabupaten Manggarai, sejumlah kebutuhan mendesak telah diidentifikasi, antara lain 15 tenda pengungsi, 12 tenda posko, 20 tenda pleton, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 velbed, 1.000 selimut, 1.000 tikar, 500 paket peralatan dapur, 12 tandon air berkapasitas 2.200 liter, 10 unit genset 5 KVA, 10 unit handy talky dan 100 unit senter.

Masyarakat di wilayah pesisir juga diminta tetap mengikuti info resmi pemerintah dan BMKG. Meskipun peringatan awal tsunami telah berakhir, kewaspadaan tetap diperlukan terhadap potensi gempa susulan maupun ancaman lain akibat kerusakan bangunan. (H-2)

Selengkapnya