Jakarta, CNBC Indonesia - Korban tewas akibat gempa luar biasa berkekuatan magnitudo 7,4 di Kolombia dilaporkan telah mencapai sedikitnya 250 orang. Tim penyelamat tetap berpacu dengan waktu untuk mencari korban nan kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Gempa nan mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin pagi hari itu disebut sebagai salah satu gempa paling menghancurkan nan melanda negara tersebut pada abad ke-21. Guncangan merusak blok apartemen, rumah, sekolah hingga akomodasi kesehatan di area perkebunan kopi.
Laporan dari sejumlah kota terdampak menyebut jumlah korban tewas mencapai 254 orang pada Selasa pagi. Sebanyak 101 korban tercatat di Pereira, sementara 95 lainnya berada di Cali, salah satu kota terbesar di Kolombia.
Di tengah kehancuran, tim penyelamat terus menyisir puing menggunakan derek, ekskavator hingga tangan kosong. Mereka apalagi meminta penduduk sekitar untuk tak bersuara sejenak agar dapat mendengar bunyi korban nan mungkin tetap hidup di bawah reruntuhan.
Rosa Gonzalez, penduduk Pereira, menceritakan detik-detik ketika dirinya sukses menyelamatkan diri berbareng suami dan bayinya nan berumur 10 bulan. "Struktur gedung mulai berderit, dan tepat saat kami berlari keluar, gedung itu runtuh," ujarnya kepada Reuters, dikutip Rabu (12/8/2026).
Di Cali, pemandangan serupa terjadi. Petugas, sukarelawan dan penduduk berupaya menyelamatkan korban dari kompleks apartemen Torres del Limonar nan hancur, sementara kerumunan penduduk berteriak-teriak ketika tim penyelamat sukses mengeluarkan seorang wanita dalam kondisi hidup dari reruntuhan.
Namun, kondisi di sejumlah wilayah terpencil jauh lebih memprihatinkan. Komunitas budaya di Choco, nan berada dekat pusat gempa, tetap mengalami gangguan listrik, air, gas dan jasa dasar, sehingga support dan proses pemindahan menjadi sangat sulit.
Andres Caicedo, tokoh masyarakat di Sipi, mengatakan penduduk apalagi kudu mencari sinyal komunikasi dengan memanjat pohon. "Ada anak-anak dan lansia nan tetap terguncang... Kami tidak mempunyai puskesmas ataupun pasokan medis; kami melakukan apa pun nan kami bisa dengan tenaga kami sendiri," katanya kepada Caracol TV.
Presiden baru Kolombia, Abelardo De La Espriella, telah mengunjungi sejumlah wilayah terdampak dan menjanjikan support ekonomi bagi penduduk nan kehilangan tempat tinggal. Pemerintah juga menghadapi tekanan untuk menyesuaikan anggaran negara setelah musibah tersebut, sementara Federasi Kopi Nasional mulai mendata kerusakan perkebunan dan prasarana pedesaan.
Hingga Selasa sore, lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat, tiga airport tetap ditutup, dan sejumlah jalan utama belum dapat dilalui. Pemerintah pusat mengatakan diperlukan beberapa hari untuk memastikan skala kerusakan dan menetapkan jumlah korban akhir lantaran komunikasi di sejumlah wilayah terdampak tetap terputus.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·