Utang Luar Negeri Indonesia Melonjak Jadi Rp8.089 Triliun

1 jam yang lalu 3
Utang Luar Negeri Indonesia Melonjak Jadi Rp8.089 Triliun ilustrasi(Antara)

Bank Indonesia mencatat posisi posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar alias sekitar Rp8.089,1 triliun. Posisi tersebut tumbuh 4,4% secara tahunan (yoy). Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 nan tercatat sebesar US$444,4 miliar alias sekitar Rp7.928,5 triliun. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan ULN pada triwulan II 2026 menunjukkan kondisi nan tetap terjaga.

"ULN Indonesia tetap terjaga dengan support peningkatan ULN publik dan kontraksi ULN swasta nan semakin rendah," kata Denny dalam keterangan resmi, Selasa (18/8).

ULN pemerintah pada triwulan II 2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar alias sekitar Rp3.860,4 triliun, tumbuh 2,9% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I 2026 sebesar 3,8% (yoy).

Perkembangan utang pemerintah terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) nan mencerminkan kepercayaan penanammodal terhadap prospek perekonomian Indonesia nan tetap terjaga.

"Pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi tanggungjawab pembayaran pokok dan kembang utang secara tepat waktu," ujar Denny.

Pemerintah juga terus mengelola ULN secara pruden, terukur, dan elastis untuk mewujudkan pembiayaan nan efisien dan optimal. Sebagai salah satu komponen pembiayaan APBN, pemanfaatan ULN diarahkan untuk mendukung sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan ULN.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,0% dari total ULN pemerintah, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib 20,6%, Jasa Pendidikan 16,2%, Konstruksi 11,5%, serta Transportasi dan Pergudangan 8,5%.

"Posisi ULN pemerintah relatif kondusif dan terkendali lantaran nyaris seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," kata Denny.

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi tersebut sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari akibat ketidakpastian dunia nan kembali meningkat.

ULN swasta melanjutkan kontraksi. Posisi ULN swasta pada triwulan II 2026 tercatat sebesar US$194,6 miliar alias sekitar Rp3.471,9 triliun, mengalami kontraksi 0,6% (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi 1,3% (yoy) pada triwulan I 2026.

Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN lembaga finansial nan terkontraksi 3,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan kontraksi 6,3% (yoy) pada triwulan I 2026. Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari sektor industri pengolahan, jasa finansial dan asuransi, lampau pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian, dengan pangsa mencapai 79,4% dari total ULN swasta.

"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7% terhadap total ULN swasta," tuturnya.

Denny kemudian menegaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nan tercatat sebesar 30,6% pada triwulan II 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1% dari total ULN.

Denny mengatakan Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN Indonesia dan mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional nan berkelanjutan. (E-3)

Selengkapnya