Utang Pemerintah Rp10.293 Triliun Masih Aman? Ini Penjelasan Kemenkeu

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang pemerintah sekarang sudah lebih dari Rp 10.000 triliun secara nominal, berasas catatan terbaru Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per akhir Semester I-2026.

Secara nominal, nilai total utang pemerintah per 30 Juni 2026 itu sebesar Rp 10.293,69 triliun, dengan rasio utang setara 41,26% terhadap produk domestik bruto (PDB). Nilai utang itu bertambah sekitar Rp 373,27 triliun dibanding catatan pada akhir 32 Maret 2026 sebesar Rp 9.920,42 triliun.

Direktur Strategi dan Portofolio Pembiayaan DJPPR Kemenkeu Hidayat Amir mengatakan, total utang pemerintah itu tetap dalam pemisah kondusif dan terkendali, lantaran di bawah ketentuan rasio maksimal nan ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara sebesar 60% PDB.

"Posisi utang Pemerintah per akhir kuartal II-2026 sebesar Rp10.293,69 triliun (41,26% PDB) tetap berada dalam level nan terkendali dan aman, jauh di bawah pemisah maksimal 60% PDB sebagaimana diatur dalam UU Keuangan Negara," ujar Amir kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (12/8/2026).

Amir turut menegaskan, pemerintah bakal terus memastikan pembiayaan utang dikelola secara hati-hati, terukur, dan produktif untuk mendukung pembangunan nasional, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Selain dari segi rasio utang terhadap PDB nan tetap jauh di bawah pemisah maksimal UU Keuangan Negara, Amir mengungkapkan, dari sisi pengelolaan risiko, struktur utang Pemerintah juga terus dijaga agar tetap sehat.

"Hal ini dapat dilihat dari komposisi utang nan didominasi instrumen berdenominasi rupiah, tenor nan relatif panjang, serta pedoman penanammodal domestik nan semakin kuat," ujarnya.

"Dengan struktur tersebut, Pemerintah optimistis pengelolaan utang tetap berkelanjutan, resilient terhadap dinamika global, dan bisa mendukung pembiayaan APBN secara kredibel," ungkap Amir.

Sebagaimana diketahui, nominal utang pemerintah sampai dengan akhir kuartal II-2026 ini terdiri dari hasil publikasi Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 8.966,79 triliun, dan pinjaman Rp 1.326,90 triliun.

Nilai utang hasil publikasi SBN ini bertambah sekitar Rp 313,9 triliun dalam tiga bulan, alias dibanding posisi per akhir kuartal I-2026 nan sebesar Rp 8.652,89 triliun. Sedangkan untuk pinjaman bertambah Rp 59,38 triliun dari catatan sebelumnya Rp 1.267,52 triliun.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya